Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Tajam! Omongan PM Australia Telak ke China: Belajar dari Kesalahan Rusia Jika Tidak...

Tajam! Omongan PM Australia Telak ke China: Belajar dari Kesalahan Rusia Jika Tidak... Kredit Foto: Reuters/Alex Ellinghausen
Warta Ekonomi, Canberra, Australia -

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese telah memperingatkan pemerintah China untuk belajar dari kesalahan strategis Rusia di Ukraina. Hal ini diungkapkan Albanese saat dia menuju ke Eropa untuk menghadiri pertemuan dengan para pemimpin NATO.

Dalam sebuah wawancara dengan Australian Financial Review, Albanese mengatakan invasi Ukraina telah menyatukan negara-negara demokratis.

Baca Juga: Niat Gembosi China, Negara-negara G7 bakal Sawer Rp8.000 Triliun buat Negara Berkembang

"Terlepas apakah negara itu menjadi anggota NATO, atau non-anggota seperti Australia," ujarnya.

Ketika ditanya pesan apa yang harus diambil pemerintah China dari invasi Rusia ke Ukraina, terutama untuk ambisinya terhadap Taiwan, Albanese mengatakan, perang itu telah menunjukkan upaya untuk memaksakan perubahan pada negara berdaulat.

Dilansir Bloomberg, Selasa (28/6/2022), Presiden China Xi Jinping memiliki ambisi untuk menyatukan China dengan Taiwan dalam beberapa dekade mendatang. Beijing telah lama menganggap Taiwan sebagai provinsi yang membangkang, meskipun keduanya diperintah secara terpisah selama lebih dari 70 tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan latihan militernya di udara dan laut di sekitar Taiwan. Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mengatakan, latihan militer China di sekitar Taiwan merupakan pola agresi yang berkembang terhadap pulau itu.

Pernyataan Albanese muncul pada saat Australia dan China berupaya menjajaki kembali hubungan diplomatik yang sempat renggang.

Namun masih ada sebagian besar titik ketegangan diplomatik antara kedua negara tersebut, termasuk kehadiran Beijing yang semakin meningkat di Pasifik, tindakan hukuman yang ditempatkan oleh China terhadap ekspor Australia, dan penahanan dua orang China Australia terkemuka.

Albanese akan bergabung dengan para pemimpin tiga negara Asia-Pasifik lainnya yaitu Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Spanyol, sebelum terbang ke Paris untuk bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Albanese mendapatkan undangan dari Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk mengunjungi Ukraina. Tetapi dia belum mengkonfirmasi apakah akan memenuhi undangan tersebut.

Pekan lalu, Taiwan mengerahkan jet tempur untuk memperingatkan 29 pesawat China yang berada di zona pertahanan udaranya atau ADIZ. Di antara 29 pesawat itu, terdapat pesawat pengebom yang terbang ke selatan Taiwan dan ke Pasifik.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan, sebanyak 17 pesawat tempur dan enam pesawat pembom H-6 China memasuki wilayah ADIZ.

Termasuk peperangan elektronik, peringatan dini, antikapal selam dan pesawat pengisian bahan bakar udara. Ini adalah peningkatan ancaman terbaru China terhadap Taiwan dalam ketegangan sejak akhir Mei.

Beberapa pesawat China terbang di daerah timur laut Pratas. Namun, para pembom, disertai dengan peperangan elektronik dan pesawat pengumpul intelijen, terbang ke Selat Bashi yang memisahkan Taiwan dari Filipina dan ke Pasifik sebelum kembali ke China. Tidak ada tembakan yang dilepaskan dari pesawat China tersebut.

Kementerian Pertahanan mengatakan, Taiwan mengirim pesawat tempur untuk memperingatkan pesawat China termasuk mengerahkan sistem rudal dikerahkan untuk memantau mereka.

Ini adalah serangan terbesar sejak Taiwan melaporkan 30 pesawat China memasuki ADIZ pada 30 Mei. Ssbelumnya pada 23 Januari, China mengerahkan 39 pesawat yang memasuki zona pertahanan udara Taiwan

Sejauh ini, belum ada komentar dari pemerintah China. Namun pada masa lalu, China kerap mengatakan bahwa, pengerahan jet tempur ke wilayah Taiwan merupakan latihan yang bertujuan untuk melindungi kedaulatan negara.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan kepada Reuters dalam sebuah email bahwa, Beijing harus menghentikan tekanan dan intimidasi militer, diplomatik, dan ekonominya terhadap Taiwan.

Bulan lalu, militer China melakukan latihan di sekitar Taiwan. Latihan ini sebagai "peringatan serius" terhadap "kolusi" Taiwan dengan Amerika Serikat.

China telah meningkatkan tekanan pada Taiwan untuk menerima klaim kedaulatannya. Sementara pemerintah Taipei menginginkan perdamaian, tetapi akan membela diri jika diserang.

Taiwan mengatakan, selama dua tahun terakhir angkatan udara China melakukan misi berulang di dekat wilayah Taiwan. Seringkali misi China tersebut dilakukan di bagian barat daya dari zona identifikasi pertahanan udara, atau ADIZ yang dekat dengan Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan.

Taipei menyebut aktivitas militer China yang berulang itu sebagai "zona abu-abu", yang dirancang untuk melemahkan kekuatan Taiwan.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan