Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Suramnya Kondisi Global, Bos BI: Ini Belum Pulih Total!

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Suramnya Kondisi Global, Bos BI: Ini Belum Pulih Total! Kredit Foto: Martyasari Rizky
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan kabar yang mengejutkan di tengah suramnya kondisi perekonomian global, yakni tumbuhnya ekonomi Indonesia kuartal II-2022 sampai ke 5,44 persen. Akan tetapi, menurutnya, pemulihan ini masih belum terjadi sepenuhnya.

"Rakyat baru bisa makan enak, bisa traveling setelah Ramadan kemarin. Sebelumnya nggak bisa makan enak karena Covid-19. (Saat ini) sudah sehat, tetapi belum pulih benar," kata Perry dalam Peluncuran Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8/2022).

Baca Juga: Erick Thohir: Pelabuhan Terminal Kijing Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan

Namun, Perry menegaskan bahwa pemulihan ekonomi yang terjadi di Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana situasi di Amerika Serikat (AS) dan China saat ini, situasinya makin memburuk.

Ia menyampaikan keprihatinannya untuk beberapa negara di Amerika Selatan hingga Afrika, di mana negara-negara tersebut sudah jatuh ke dalam lubang krisis.

Lebih lanjut, Perry menegaskan, yang saat ini masih harus terus diperhatikan oleh Indonesia ialah inflasi. Pada akhir Juli, inflasi umum telah mencapai 4,94 persen, didorong oleh inflasi pada harga pangan yang mencapai 10,4 persen.

Terkait hal tersebut, Perry menyatakan, laju inflasi pangan harus segera diredam. "Ingat! Inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat, dan langsung ke kesejahteraan," tegasnya.

Menurutnya, dampak dari inflasi pangan juga tak hanya erat dengan sektor ekonomi semata, tetapi dapat berdampak luas ke sektor sosial karena turunnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Perry mendorong penguatan kerja sama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam upaya menekan laju inflasi pangan melalui operasi pasar dan kebijakan lainnya.

"Mohon inflasi ini seperti layaknya kita ingin menegakkan kemerdekaan. Kita harus turunkan inflasi (pangan) paling tinggi 6 persen, kalau bisa 5 persen," pungkasnya.

Baca Juga: Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi di Kuartal III 2022

Penulis: Martyasari Rizky
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel: