Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Soroti Era Suku Bunga Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global yang Masih Tinggi

BI Soroti Era Suku Bunga Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global yang Masih Tinggi Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Parapat -

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, Bank Indonesia (BI) menyoroti berbagai tantangan yang bisa berdampak pada negara – negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan bank sentral adalah era suku bunga tinggi dalam waktu yang lama alias Higher for longer.

Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti mengatakan bahwa The Fed melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuannya Fed Funds Rate pada level saat ini atau tidak menaikkan maupun menurunkannya.

Namun, dari pernyataan Ketua The Fed terlihat bahwa mereka masih bersikap hawkish. Mereka masih sangat memperhatikan kondisi ekonomi AS yang dinilai masih menunjukkan tekanan inflasi.

Untuk diketahui, Bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga  acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen dalam rapat FOMC, Rabu (29/7/2026).

Keputusan tersebut diambil melalui voting 9 banding 3, menandai lima pertemuan berturut-turut The Fed mempertahankan suku bunga di level yang sama.

"Artinya, dunia masih menghadapi situasi higher for longer, yaitu kondisi ketika suku bunga tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Yang tetap tinggi bukan hanya suku bunga, tetapi juga yield obligasi pemerintah AS dan tingkat inflasi."

"Situasi tersebut tentu berdampak pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia," katanya saat membuka Editor Briefing secara Hybrid di Parapat, Sumatera Utara, Jumat (31/7/2026).

Selain suku bunga, BI juga menyoroti konflik geopolitik global yang hingga saat ini belum selesai. Menurut Destry, kondisi ini mengganggu arus perdagangan, menjaga harga minyak tetap tinggi, dan mendorong inflasi global.

Baca Juga: Prabowo Singgung Sosok Gubernur BI yang Baru, Sebut Penentu Akhir Ada di DPR

“Semua kondisi tersebut pada akhirnya memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia,” pungkasnya.

Melihat kondisi tersebut, Destry bilang pihaknya akan fokus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terjaga di kisaran sasaran ​​2,5±1%​.

"Dalam kondisi seperti sekarang, fokus Bank Indonesia adalah stabilisasi. Kalau berbicara kondisi domestik, perhatian kami adalah inflasi. Sedangkan untuk sektor eksternal, fokus kami adalah nilai tukar Rupiah. Tantangan jangka pendek yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi. Karena itu, pada RDG Juli 2026 kami memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen," tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman