Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Hantui Tren Pertumbuhan Kredit

Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Hantui Tren Pertumbuhan Kredit Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah kenaikan inflasi, penyaluran kredit di Indonesia malah tumbuh positif. Namun, adanya potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) bisa menghambat penyaluran kredit di sisa tahun 2022. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juni) 2022 sebesar 3,19 persen sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2022 terhadap Juni 2021) sebesar 4,35 persen. Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS sempat melemah ke level Rp15.000 an beberapa setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin ke 1,5  - 1,75 persen guna meredam inflasi.

Menurut Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, peningkatan inflasi Indonesia dalam tiga sampai empat bulan terakhir cenderung didorong oleh faktor sisi suplai, sejalan dengan gejolak kenaikan harga dan inflasi harga diatur pemerintah. Baca Juga: Kredit Tumbuh Positif, Laba Bersih Citibank Melesat Signifikan pada Semester Pertama 2022

“Tingkat inflasi yang relatif tinggi ini dikhawatirkan mendorong peningkatan suku bunga BI hingga akhir tahun 2022. Saat kenaikan inflasi di tahun 2013 dan 2018 yang dibarengi dengan kenaikan suku bunga BI pada umumnya direspon dengan kenaikan suku bunga perbankan, baik suku bunga Dana Pihak Ketiga dan suku bunga kredit. Meskipun kenaikan suku bunga kredit cenderung lebih terbatas. Saat ini suku bunga acuan BI masih berada di level 3,5 persen,” jelas Josua dalam diskusi virtual Kini Paham Kredit #3: “Inflasi dan Bayang-bayang Kenaikan Suku Bunga. Kapan Waktunya Kredit?” yang diselenggarakan oleh IdScore di Jakarta, baru-baru ini.

Sementara itu, Direktur Utama IdScore, Yohanes Arts Abimanyu menjelaskan, melihat situasi inflasi dan prediksi kenaikan suku bunga, BI mulai melakukan normalisasi yang mengarah ke pengetatan kebijakan moneter. Kondisi ini akan mempengaruhi penyaluran kredit di semester II tahun 2022.

"Standar penyaluran kredit yang lebih ketat diperkirakan terjadi pada jenis kredit modal kerja, kredit konsumsi selain Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan kredit Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM)," ungkapnya.

Sementara itu, lanjut Dia, aspek kebijakan penyaluran kredit yang diperkirakan lebih ketat dibandingkan sebelumnya antara lain yaitu plafon kredit, jangka waktu kredit, premi kredit berisiko, dan agunan.

Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai dengan Juni 2022 penyaluran kredit perbankan mencapai angka Rp6.182 triliun, atau naik 10,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2022 mampu mencapai 9–11 persen secara tahunan didorong oleh capaian penyaluran kredit yang tumbuh 10,66 persen pada Juni 2022.

Data IdScore, misalnya, menunjukan sejak Februari 2022 terjadi tren peningkatan portofolio kredit baik anggota dan non-anggotanya yang disebabkan oleh pemulihan ekonomi dan suku bunga yang rendah. Baca Juga: Keren! Kredit Perbankan Tumbuh 10,66% di Tengah Tekanan Inflasi dan Ekonomi Global

Nilai portfolio kredit rata-rata anggota selama satu tahun terakhir tercatat sebesar Rp3.379,66 triliun, ini lebih tinggi Rp395,52 triliun daripada rata-rata portofolio non anggota. Sedangkan Nilai tertinggi portofolio kredit terjadi sebelum pandemi (Februari 2020) sebesar Rp 6.887,02 triliun.

Adapun semenjak pandemi portofolio tertinggi terjadi pada Mei 2022 sebesar Rp6.731,27 trilliun dengan pertumbuhan 0,53% dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 8,08% dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga: BSI Berangkatkan Umrah 120 Guru, Relawan dan Tenaga Medis

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman

Advertisement

Bagikan Artikel: