Kredit Foto: Kementerian ESDM
Harga minyak dunia ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan di Senin (26/1). Investor tengah menimbang dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak di Amerika Serikat (AS). Mereka juga mencermati perkembangan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari Reuters, Selasa (27/1), Brent Crude turun 0,4% ke US$65,59. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,7% ke US$60,63.
Baca Juga: Bakrie Group (ENRG) Temukan Sumber Minyak Baru, Potensi Cadangan Tembus 76 Juta Barel
Dari Amerika Serikat, produsen minyak melaporkan kehilangan produksi hingga dua juta barel per hari (bpd) selama akhir pekan, ketika badai musim dingin melanda sejumlah wilayah dan membebani infrastruktur energi serta jaringan listrik.
Gangguan produksi diperkirakan mencapai puncaknya di Cekungan Permian. Wilayah tersebut menyumbang penurunan sekitar 1,5 juta bpd .
Adapun laporan juga menyebut terdapat sekitar dua lusin laporan gangguan operasional dalam fasilitas pengolahan gas alam dan stasiun kompresor di Texas.
Kazakhstan juga menjadi sorotan karena dilaporkan tengah bersiap melanjutkan produksi ladang minyak terbesarnya, meski volume dilaporkan masih rendah dan status force majeure atas ekspor dari Caspian Pipeline Consortium (CPC) Blend.
Caspian Pipeline Consortium (CPC) sendiri menyatakan terminaltelah kembali beroperasi di Laut Hitam. Ia akan berjalan dengan kapasitas pemuatan penuh setelah pemeliharaan selesai di salah satu dari tiga titik tambat utama.
Di sisi lain, pelaku pasar juga tetap berhati-hati terhadap risiko geopolitik, terutama meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan lalu mengatakan bahwa pihaknya memiliki sebuah “armada” yang bergerak menuju Iran. Trump kembali memperingatkan negara tersebut agar tidak membunuh para demonstran atau menghidupkan kembali program nuklirnya.
Iran sendiri menanggapi pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa setiap serangan akan diperlakukan sebagai perang total terhadap negaranya.
Baca Juga: AS Kritik Kebijakan Hijau Uni Eropa: Dunia Perlu Gandakan Produksi Minyak!
Kombinasi gangguan pasokan sementara, pemulihan produksi global, serta ketidakpastian geopolitik terus membentuk pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement