Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kantongi Ribuan Dokumen Rahasia, Eks Kepala Mossad: Rezim Iran Berbohong ke Seluruh Dunia

Kantongi Ribuan Dokumen Rahasia, Eks Kepala Mossad: Rezim Iran Berbohong ke Seluruh Dunia Kredit Foto: Reuters/Lisi Niesner
Warta Ekonomi, Yerusalem -

Mossad mengatakan militer Israel melakukan operasi tak terhingga untuk menyasar program nuklir Iran. Hal ini diungkap oleh eks pemimpin Mossad, Yossi Cohen, seraya menuduh rezim Teheran penyandang dana global terorisme di dunia.

Cohen mengatakan, Iran sedang mencoba untuk mengancam Israel dari selatan di Gaza dan melalui utara di Suriah dan Lebanon. Oleh karena itu, Israel meningkatkan operasi keamanan di Iran.

Baca Juga: Ampun! Situasinya Bikin Iran Terdesak, Mossad dalam Keadaan yang Menguntungkan Karena...

"Rezim Iran berbohong kepada seluruh dunia dan kami membuktikannya ketika kami membawa ribuan dokumen dari arsip Iran, dokumen yang membuktikan bahwa Iran berbohong kepada IAEA (International Atomic Energy Agency)," ujar Cohen, dilansir Middle East Monitor, Rabu (31/8/2022).

Cohen menambahkan, Israel akan melakukan segala upaya untuk menunda dan mencegah Iran membangun bom atom yang akan mengancam Israel.

Sebelumnya Kepala Mossad, David Barnea, mengatakan, militer Israel telah memulai persiapan untuk menyerang Iran. Barnea menggambarkan kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sebagai bencana strategis bagi Israel.

Barnea mengatakan, kesepakatan JCPOA itu sangat buruk bagi Israel. Menurutnya, Amerika Serikat (AS) sedang terburu-buru membuat kesepakatan yang didasarkan pada kebohongan Iran. Hal ini mengacu pada klaim berkelanjutan Iran bahwa kegiatan nuklirnya digunakan untuk kegiatan damai.

"Mengingat kebutuhan AS dan Iran. Washington berusaha mencegah Teheran memperoleh kemampuan untuk membangun bom nuklir, sementara Republik Islam (Iran) mencari bantuan dari sanksi keuangan dan ekonomi yang melumpuhkan," ujar Barnea, dilansir Middle East Monitor, Ahad (28/8/2022).

Barnea meyakini, JCPOA dapat memberikan lisensi bagi Iran untuk mengumpulkan bahan nuklir yang diperlukan untuk membuat sebuah bom dalam beberapa tahun mendatang. Dia juga percaya bahwa, JCPOA akan memberikan keuntungan senilai miliaran dolar kepada Teheran saat aset mereka dibekukan.

"Ini meningkatkan bahaya yang ditimbulkan Iran di seluruh kawasan melalui proksinya," ujar Barnea.

Barnea juga menekankan, Israel akan bertindak dengan cara yang dianggap tepat untuk menetralisir ancaman Iran. Dia mencatat, Israel telah memulai persiapan untuk serangan militer terhadap Iran jika tindakan tersebut dianggap perlu.

Sebelumnya pada Rabu (24/8/2022), Iran mengumumkan bahwa mereka menerima tanggapan AS untuk kembali menghidupkan kesepakatan JCPOA. Pada 2018, di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara sepihak keluar dari perjanjian JCPOA dan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran.

Sejak itu, Iran mulai meningkatkan pengayaan uranium yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Namun Iran menampik bahwa mereka sedang membangun senjata nuklir. Iran mengklaim peningkatan uranium itu digunakan untuk tujuan damai.

Para diplomat dari Iran, AS, China, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman telah merundingkan kesepakatan JCPOA selama berbulan-bulan. Perundingan itu bertujuan agar Iran berkomitmen kembali pada pembatasan kesepakatan nuklirnya, dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Baca Juga: Ternyata Ganjar yang Bikin Anies Dijegal Pergi ke Daerah-daerah: Elektabilitasnya Mulai Mendekati, jadi Paham Diganggunin Terus

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: