Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Lupakan Kebaya Merah, Dukungan Masyarakat Dibutuhkan dalam Gelorakan Gerakan Kebaya Goes to UNESCO!

Lupakan Kebaya Merah, Dukungan Masyarakat Dibutuhkan dalam Gelorakan Gerakan Kebaya Goes to UNESCO! Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga terus mendukung perwujudan pelestarian kebaya sebagai warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage melalui gerakan “Kebaya goes to UNESCO”. Bintang menyebutkan bahwa perempuan memiliki peran sentral sebagai agen kebudayaan.

Ia menjelaskan perempuan berperan dan berkontribusi besar dalam menciptakan sekaligus mempertahankan serta melestarikan produk-produk kebudayaan di masyarakat, salah satunya adalah kebaya. Hal ini disampaikan Menteri PPPA dalam sambutannya pada kegiatan Sharing Online: Mengenal Kebaya dan Filosofinya secara virtual, Minggu (6/11/2022).

Baca Juga: Teten Masduki Puji Pagelaran W20, Sukses Hadirkan Kesetaraan Gender Lewat Digitalisasi UMKM

“Perempuan adalah agen kebudayaan, bukan objek kebudayaan. Tradisi budaya kita telah dengan sendirinya bercerita bagaimana perempuan nusantara ini berperan dalam membangun budaya. Tidak hanya berkontribusi dalam pelestariannya, perempuan juga berperan besar dalam menciptakan kebudayaan di Indonesia,” ujar Bintang dalam keterangan pers, Senin (7/11/2022).

Menteri PPPA menekankan, peran perempuan sebagai agen kebudayaan tak hanya sekadar melestarikan warisan kebudayaan yang telah ada, namun perempuan pun mampu menciptakan produk-produk sarat akan nilai kearifan lokal dan budaya. Hal tersebut pun sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong pemajuan serta pelestarian budayanya melalui penguatan sumber daya manusia. Berbagai upaya pun dilakukan, salah satunya melalui isu proritas pertama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), yakni peningkatan kewirausahaan perempuan yang berperspektif gender.

“Kami mendorong peran perempuan dalam menciptakan, mempromosikan, memasarkan dan juga menggunakan produk-produk budaya Indonesia seperti kebaya yang kian melekat sebagai identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia,” tutur Menteri PPPA.

Sebagai busana nasional Indonesia, kebaya merupakan kekuatan bangsa dimana tersirat kekayaan akan sejarah dan warisan yang tak lekang oleh waktu. Pada zaman sebelum Indonesia merebut kemerdekaannya, kebaya berhasil menghapus status sosial yang kerap melekat pada tata cara berbusana dan menjadi busana bagi seluruh kelas sosial. Kebaya mampu membangun kebudayaan bangsa dan memuliakan jati diri bangsa. Keberadaan kebaya sebagai busana nusantara sejak ratusan tahun lalu sudah sepatutnya diakui di kancah dunia sebagai warisan budaya tak benda.

Baca Juga: Bawa-bawa Nasib Tionghoa, Ade Armando: Jika Dukung Anies Baswedan, Umat Kristen Akan Membayar...

“Saya sangat mengapresiasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk tokoh-tokoh perempuan, pemimpin perempuan dan pemerintah daerah yang telah membuat kebijakan yang menetapkan aturan berbusana adat. Terutama dalam kebijakan itu ditetapkan juga penggunaan kebaya. Tentunya, akan semakin menjadi kekuatan kita bila kebijakan penggunaan kebaya ini juga dapat berlangsung di seluruh perwakilan kita di luar negeri, baik dalam tugas-tugas diplomatik maupun di dalam kegiatan sosial lainnya,” kata Menteri PPPA.

Baca Juga: Sekda Adi Arnawa Buka Bulan Bahasa Bali Kabupaten Badung

Penulis: Rena Laila Wuri
Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: