Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Buktikan Ketangguhan Jalani Bisnis, Intip 6 Aksi Akuisisi Astra International Sepanjang 2020–2023!

Buktikan Ketangguhan Jalani Bisnis, Intip 6 Aksi Akuisisi Astra International Sepanjang 2020–2023! Kredit Foto: Astra International Tbk
Warta Ekonomi, Jakarta -

Selama pandemi melanda, PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu perusahaan yang mampu bertahan dalam menjalankan bisnisnya. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan keuntungan yang masih menyentuh angka triliunan rupiah dan kemampuan Astra International dalam mengakuisisi saham perusahaan lain dalam jumlah besar.

Perihal perolehan laba, pada tahun 2020 alias ketika virus Covid-19 baru merebak di Indonesia, Astra International masih mampu menghimpun keuntungan sebesar Rp16,16 triliun, meskipun merosot 25,53% dari perolehan tahun sebelumnya. Kemudian, pada tahun 2021, angka keuntungannya kembali naik 24,94% menjadi Rp20,19 triliun.

Peningkatan keuntungan kembali terjadi pada tahun 2022. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis perusahaan, dilaporkan bahwa Astra International sukses mengantongi Rp28,94 triliun alias menanjak 43,31% menjadi Rp28,94 triliun. Dengan adanya capaian tersebut, terbukti bahwa Astra International berhasil menaklukkan situasi pandemi dengan baik.

Baca Juga: Mau Akuisisi Perusahaan Pembiayaan, Akseleran Incar Dana Rp358,62 Miliar dari IPO

Bersamaan dengan momentum pertumbuhan bisnis, Astra International diketahui telah melakukan aksi tersebut setidaknya enam kali sepanjang tahun 2020–2023. Berikut adalah daftar aksi akuisisi Astra International yang diolah redaksi Warta Ekonomi dari berbagai sumber.

1. Hotel Mandarin Oriental Jakarta

Pada awal bulan ini, melalui anak perusahaannya, yaitu PT Astra Land Indonesia, Astra International mengambil alih PT Jaya Mandarin Agung alias pengelola Hotel Mandarin Oriental Jakarta. Mengutip dari keterbukaan informasi, dikabarkan bahwa aksi yang melibatkan dua perusahaan itu bernilai US$85 juta atau setara dengan Rp1,28 triliun. Nominal tersebut mencakup US$49,77 juta akuisisi 96,92% saham Jaya Mandarin Agung dan US$252,3 juta akuisisi piutang. 

2. PT Bank Jasa Jakarta (BJJ)

Pada September tahun lalu, Astra International mengakuisisi Bank Jasa Jakarta melalui Sedaya Multi Investama, salah satu anak perusahaannya. Hal itu dilakukan karena pihak Astra International melihat cerahnya prospek bank digital seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi. Berdasarkan perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak, Sedaya Multi Investama mengambil alih 1,14 juta saham baru dengan nilai transaksi mencapai Rp3,88 triliun.

3. Stargate Pasific Resources

Melalui anak perusahaannya, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), Astra International mengakuisisi saham PT Stargate Mineral Asia. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada akhir tahun 2022, diketahui bahwa perusahaan tersebut menggelontorkan US$271,81 juta atau setara dengan Rp4,27 triliun.

Saham tersebut kemudian diserahkan kepada PT Danusa Tambang Nusantara, anak perusahaan United Tractors. Tujuan dilakukannya akuisisi adalah diversifikasi kegiatan usaha dengan mengembangkan bisnis di sektor pertambangan, jasa, dan pengolahan mineral nikel. 

4. PT Medikaloka Hermina (RS Hermina)

Sejak pandemi merebak, sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling diuntungkan dan potensial. Astra International pun melirik sektor tersebut melalui akuisisi saham PT Medikaloka Hermina (RS Hermina).

Diketahui, Astra International pertama kali membeli saham RS Hermina melalui private placement dengan harga Rp1.500 per lembar saham. Adapun jumlah saham yang diborong pada April 2022 itu mencapai 30 juta unit. Jika dikalkulasikan, jumlah transaksi keduanya mencapai Rp45 miliar.

Astra terus menambah porsi kepemilikan dalam RS Hermina, termasuk aksi menambah kepemilikan sahamnya atas RS Hermina hingga 0,95%. Oleh sebab itu, volume saham RS Hermina yang dimiliki Astra International melompat dari 970.000 lembar saham menjadi 1.110.824.000 lembar saham. Dengan adanya transaksi pembelian itu, Astra International adalah pemegang saham kedua terbanyak dengan persentase kepemilikan menyentuh 11,71%.

Baca Juga: Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara, Petrosea Gelontorkan Duit US$90,56 Juta

5. Lahan milik PT Delta Mega Persada

Tidak hanya mengakuisisi saham, Astra International melalui cucu perusahaannya, PT Lazuli Karya Sarana, juga melakukan pengambilalihan lahan pada tahun 2022 lalu. Kala itu, targetnya adalah anak perusahaan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) yang bernama PT Delta Mega Persada. Lahan seluas 50 hektare yang terletak di Cikupa, Tangerang, itu diakuisisi untuk menjalankan proyek pembangunan residensial. Adapun nilai proyek tersebut ditaksir mencapai Rp6 triliun. 

6. Astra Life

Pada tahun 2020 lalu, PT Sedaya Multi Investama, Astra International mengambil alih 49,99% saham Astra Life dari Aviva International Holdings Limited setelah enam tahun bermitra. Sebelum akuisisi dilakukan, kepemilikan saham Astra International dan Aviva International sama-sama berada di persentase yang sama, yakni 49,99%. Dengan demikian, setelah aksi korporasi itu dilaksanakan, 99,99% saham Astra Life, baik secara langsung maupun tidak langsung, menjadi milik Astra International.

Mengenai akuisisi, Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro, mengungkapkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya ingin terus menginvestasikan modal secara signifikan di Indonesia. Hal tersebut dilakukan karena sejalan dengan prioritas strategis perusahaan yang mengedepankan pertumbuhan dan akuisisi.

“Kami yakin akan potensi pertumbuhan jangka panjang dan neraca yang kuat. Dengan demikian, sebagian excess capital dapat dikembalikan kepada para pemegang saham,” ungkap Djony beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pertamina Trans Kontinental Mau Akuisisi Perusahaan Australia Tahun Ini

Sebagai informasi tambahan, pada tiga bulan pertama tahun 2023 ini, Astra International berhasil meningkatkan perolehan laba hingga 27,11% menjadi Rp8,7 triliun. Hal tersebut berjalan beriringan dengan melompatnya angka pendapatan bersih hingga 15,45% menjadi Rp82,98 triliun.

Baca Juga: Untuk B100, Pengusaha Sawit: Minimal Butuh Pasokan CPO 36 Juta Ton Per Tahun

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yohanna Valerie Immanuella
Editor: Yohanna Valerie Immanuella

Advertisement

Bagikan Artikel: