Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

RI-Inggris Duduk Bareng Bahas Komoditas Perkebunan dan Kehutanan Berkelanjutan, Ini Hasilnya

RI-Inggris Duduk Bareng Bahas Komoditas Perkebunan dan Kehutanan Berkelanjutan, Ini Hasilnya Kredit Foto: Kemenko Perekonomian
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menerima kunjungan Menteri Keamanan Energi dan Net Zero Inggris, H.E Mr Graham Stuart MP, di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian.

Pertemuan kedua menteri itu diketahui membahas isu perdagangan komoditas pertanian Indonesia dan Inggris, petani kecil dan sertifikasi, serta komitmen terhadap perdagangan sektor pertanian dan isu perubahan iklim, termasuk perkembangan Forest Agriculture, Commodities, and Trade (FACT) Dialogue.

Baca Juga: Menko Airlangga: Perekonomian Tumbuh Kuat, Daya Saing RI di Mata Dunia Naik Kelas!

"Total nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Inggris pada tahun 2022 mencapai jumlah USD2.7 miliar. Angka tersebut mengalami peningkatan 4.9% dari total perdagangan kedua negara pada tahun 2021. Perdagangan pada komoditas pertanian antara Indonesia dan UK pada tahun 2021 sampai 2022 menunjukkan tren positif dengan peningkatan sebesar 10,59%," ungkap Airlangga, Selasa (8/8/2023).

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan beberapa komitmen Indonesia pada perdagangan komoditas pertanian dan perubahan iklim, termasuk upaya kebijakan perkebunan keberlanjutan Indonesia dalam menanggapi kebijakan European Union Deforestation-free Regulation (EUDR), yang baru-baru ini dikeluarkan Uni Eropa.

"Penting bagi Inggris untuk mengetahui dan mengakui sepenuhnya standar keberlanjutan nasional sehingga menciptakan kondisi menuju akses pasar yang lebih baik untuk produk yang diproduksi secara berkelanjutan ke Inggris," ujar Airlangga.

Flagship kerja sama kedua negara dalam mengelola kayu dan produk kayu secara legal dan berkelanjutan tercermin melalui kesepakatan Forest Law Enforcement, Governance, and Trade - Voluntary Partnership Agreement (FLEGT - VPA) yang secara resmi telah berlaku sejak Desember 2018.

Tak hanya itu, pertemuan juga membahas mengenai langkah yang akan ditempuh ke depan dalam kerangka keketuaan bersama Indonesia dan Inggris pada FACT Dialogue, yang merupakan negara produsen dan konsumen sektor perkebunan dan kehutanan sebagai upaya address isu terkait sektor tersebut, terutama mengenai aspek keberlanjutan dalam rangka pengurangan emisi secara global.

Airlangga menjelaskan, downstream isu tematik dari FACT Dialgoue yaitu Transparency and Traceability, Smallholder Support, Trade and Market Development, dan Research, Development, and Innovation.

"Keketuaan bersama Indonesia dalam forum dialog ini akan berakhir pada akhir tahun 2023, selanjutnya kedua negara sedang mempersiapkan tindak lanjut dari FACT Dialogue pasca kepemimpinan Indonesia," tandas Airlangga.

Baca Juga: Inggris Perbanyak Tim Investigasi Pemberantas Kasus Kriminalitas terkait Kripto

Terakhir, kedua Menteri juga menyinggung kerja sama transisi energi rendah karbon untuk akselerasi target Net Zero Emission (NZE) 2060, termasuk pengembangan energi baru dan terbarukan.

Untuk diketahui, Indonesia dan Inggris memiliki mekanisme kerja sama "Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia" (MENTARI) yang baru-baru ini diperpanjang hingga 2027.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Alfida Rizky Febrianna
Editor: Ayu Almas

Advertisement

Bagikan Artikel: