Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Di Depan PBB, Retno Marsudi Ceritakan Cara RI Tangani Terorisme dan Radikalisme

Di Depan PBB, Retno Marsudi Ceritakan Cara RI Tangani Terorisme dan Radikalisme Kredit Foto: Kemenlu
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menghadiri Ministerial Plenary Meeting of the Global Counter-Terrorism Forum (GCTF) ke-13 di sela-sela High Level Week Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Retno membagikan pengalaman Indonesia dalam menanggulangi kejahatan terorisme dan penanganan radikalisme di Indonesia, khususnya mengenai strategi rehabilitasi dan reintegrasi bagi mantan teroris.

Mengawali pidatonya, Retno menyampaikan bahwa ancaman global terorisme terus meningkat dan terus berevolusi.

Baca Juga: Di Sela Pertemuan PBB, Retno Marsudi Tekankan Reformasi Kerja Sama Multilateralisme

"Aksi teror semakin beragam, penggunaan propaganda online dan eksploitasi terhadap teknologi baru termasuk drone dan AI (Artificial Intelligence) juga semakin tinggi," ujarnya, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (21/9/2023).

Retno juga menyampaikan bahwa angka kematian akibat terorisme dalam lima tahun terakhir dilaporkan meningkat.

"Bagi Indonesia, rehabilitasi dan reintegrasi harus mencakup semua aspek, tidak hanya terbatas pada mantan narapidana teroris, tetapi juga harus memperkuat ketahanan masyarakat dan lingkungan yang menerima mereka," tambahnya.

Retno lalu membeberkan tiga upaya yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi permasalahan berkaitan dengan terorisme dan radikalisme.

"Pertama, dengan mengedepankan pendekatan 'whole-of-government' and 'whole-of-society', sebagaimana dimandatkan dalam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme," ungkapnya.

Dia menjelaskan, pendekatan ini menggarisbawahi pentingnya peran dan dukungan yang sinergis antara pemerintah dan masyarakat. Pendekatan ini juga menggabungkan hard and soft approaches, pelibatan masyarakat, dan kerja sama internasional.

Menurut Retno, mengubah pemikiran ekstremisme menjadi pemikiran yang damai memerlukan dukungan semua pihak. “It takes a village, to turn an extremist idea into a peaceful one," ucapnya.

"Kedua, memastikan kemajuan teknologi dan riset agar tidak disalahgunakan. Teknologi yang berkembang sangat cepat dapat memberi ruang bagi berkembangnya ide-ide ekstremisme. Kita harus tetap waspada," lanjut Retno.

Untuk itu, kata dia, Indonesia telah meluncurkan Pusat Pengetahuan Indonesia (I-KHub) untuk mengintegrasikan sistem data dan mendukung pengambilan keputusan berbasis penelitian dalam upaya memerangi ekstremisme, sekaligus memastikan keamanan negara.

Ketiga, sambung Retno, memastikan lingkungan yang aman untuk menangkal ekstremisme, termasuk melalui program pendidikan bagi perempuan dan anak. 

“Karena pemikiran ekstremis hanya dapat tumbuh di tempat yang dipenuhi dengan kebencian," pungkasnya.

Baca Juga: Mahfud MD Teken Kerja Sama Indonesia-Turki Lawan Kejahatan Transnasional dan Terorisme

Baca Juga: Konsisten dalam Pengembangan Energi Baru Terbarukan, Pertamina Group Ini Gaet Penghargaan IGA 2024

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Alfida Rizky Febrianna
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: