Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hilirisasi On-Track, Valuasi MIND ID Diproyeksi Meroket di 2026

Hilirisasi On-Track, Valuasi MIND ID Diproyeksi Meroket di 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) diprediksi bakal mengalami lonjakan nilai kapitalisasi dan portofolio bisnis yang signifikan pada tahun 2026. Hal ini seiring dengan progres masif sejumlah proyek strategis nasional (PSN) yang mulai memasuki fase krusial di sepanjang tahun 2025.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, mengungkapkan bahwa MIND ID saat ini tengah berada dalam jalur yang tepat (on-track) dalam mentransformasi model bisnis dari sekadar tambang ekstraktif menuju perusahaan industri berbasis nilai tambah.

"Di 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka sukses meninggalkan paradigma lama dan menjadi garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai elemen mineral," ujar Ferdy, Senin (29/12/2025).

Baca Juga: Hilirisasi Mineral Jadi Cermin Arah Indonesia di Mata Dunia

Ferdy menyoroti proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah sebagai salah satu game changer bagi kinerja grup. Pasca-konsolidasi, proyek yang digarap PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) ini telah memberikan kontribusi nyata bagi pemenuhan kebutuhan alumina domestik, yang selama ini menjadi beban impor PT Inalum.

"Dengan berjalannya SGAR, kapasitas alumina Indonesia melonjak. Ini bukan hanya soal substitusi impor, tapi juga memperkuat struktur biaya industri otomotif dan petrokimia nasional," paparnya.

Selain alumina, mesin pertumbuhan MIND ID juga dipicu oleh penetrasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). 

Proyek HPAL di Pomalaa yang mencatatkan progres fisik 41,72% serta investasi jumbo US$5,9 miliar Antam bersama CATL menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga: Hilirisasi Agresif, MIND ID Perkuat Posisi Tawar RI di Peta Hijau Global

"MIND ID punya kemampuan finansial yang sangat kuat. Cashflow yang sehat dan revenue yang bertumbuh membuat pasar tidak ragu terhadap rencana ekspansi mereka. Jika semua proyek ini commissioning di 2026, saya yakin valuasinya akan jauh lebih besar dari sekarang," tegas Ferdy.

Optimisme serupa juga datang dari sektor batu bara melalui PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Melalui pendanaan sindikasi Himbara senilai Rp3,56 triliun, PTBA tengah memacu infrastruktur logistik untuk meningkatkan kapasitas angkut hingga 20 juta ton per tahun. 

Tak hanya itu, inovasi kalium humat berbasis batu bara rendah kalori menjadi bukti diversifikasi non-energi yang mampu memperkuat ketahanan pangan.

Ferdy menambahkan, keberhasilan operasional ini secara langsung memompa ekonomi lokal. Ia mencontohkan bagaimana PT Freeport Indonesia berkontribusi hingga 94% terhadap PDRB Mimika. "Di tengah efisiensi anggaran pusat, BUMN tambang ini menjadi andalan ekonomi daerah," katanya.

Dengan fundamental yang solid, MIND ID kini bersiap menuju status _Go Global_, menjadi pionir hilirisasi mineral dari hulu ke hilir yang diproyeksikan bakal menjadi role model bagi industri pertambangan di kawasan regional.

Baca Juga: PTBA Gandeng Kejati Lampung Perkuat Pendampingan Hukum Proyek Strategis

Namun, di tengah performa yang gemilang, Ferdy mengingatkan pemerintah agar tidak memberatkan margin perusahaan dengan kebijakan pajak yang berlebihan. 

"Pemerintah jangan hanya memberi perintah, tapi harus punya desain industri yang jelas. Jangan sampai produk smelter MIND ID hanya berhenti sebagai 'produk antara'. Pemerintah harus memastikan hilirisasi ini berlanjut hingga ke industri manufaktur seperti pabrik stainless steel atau komponen otomotif agar multiplier effect-nya berlipat ganda," tutup Ferdy.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Djati Waluyo

Advertisement

Bagikan Artikel: