Kredit Foto: Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden
Saat memberikan pidato dalam Puncak Perayaan Natal Nasional 2025 Presiden Prabowo mengutip ajaran dalam agama Islam yang menyebutkan bahwa fitnah memiliki dampak yang sangat merusak.
Ia menilai, di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat dan pemimpin harus mampu membedakan antara kritik yang membangun dan fitnah yang menyesatkan.
“Kalau di agama Islam ada itu ajarannya: fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan,” ujar Prabowo di Tennis Indoor Senayan, kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: Presiden Prabowo Ingatkan Bahaya Disinformasi di Media Sosial
Kepala Negara menekankan bahwa kritik seharusnya disikapi sebagai bentuk kepedulian dan pengamanan, bukan ancaman. Ia mengaku selalu berusaha bersyukur ketika mendapatkan koreksi, karena hal tersebut justru membantunya menjalankan tugas dengan lebih baik.
“Kalau saya dikoreksi saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan,” katanya.
Prabowo kemudian memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari terkait pentingnya koreksi. Ia menggambarkan situasi ketika seorang bawahan mengingatkan hal kecil yang luput dari perhatian, namun berdampak besar jika dibiarkan.
“Kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian anak buah kita lari, ‘Pak, seragam Bapak, kancingnya’. Ini anak buah kok berani koreksi? Tapi dia koreksi untuk mengamankan saya,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Gerindrama ini juga menceritakan pengalamannya saat masih aktif berdinas, ketika dirinya hampir keluar ruangan tanpa mengenakan tanda pangkat secara lengkap. Berkat koreksi dari bawahan, situasi tersebut dapat dicegah.
“Saya keluar dari ruangan mau ambil apel, lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya, ‘Pak, jangan keluar Pak, tanda pangkat Bapak tidak lengkap’. Jadi apa? Dia mengamankan saya. Kritik, koreksi adalah menyelamatkan,” tuturnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Survei Dunia Harvard–Gallup Sebut Indonesia Negara Paling Bahagia
Dalam konteks kepemimpinan nasional, Prabowo mengaku terbuka terhadap kritik keras yang dialamatkan kepadanya, termasuk tudingan mengenai arah kepemimpinannya. Ia menyebut kritik semacam itu justru mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi dan memastikan kebijakan berjalan sesuai koridor hukum.
“Saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: ‘Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme’. Wah, baru saya koreksi, apa benar? Oke, baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana. Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” ucapnya.
Pemilik nama asli Prabowo Subianto Djojohadikusumo ini menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis menatap masa depan Indonesia, meski di tengah berbagai kritik dan sikap sinis dari sejumlah kelompok. Ia menekankan bahwa kerja pemerintahan akan dibuktikan melalui tindakan nyata.
“Kita memiliki masa depan yang bagus walaupun ada kelompok nyinyir. Nggak apa-apa. Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja,” kata Prabowo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait:
Advertisement