Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gas Tersendat Sejak 2 Januari, Mesin Pompa Angguk Rokan Menanti Pasokan TGI Pulih

Gas Tersendat Sejak 2 Januari, Mesin Pompa Angguk Rokan Menanti Pasokan TGI Pulih Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sektor hulu migas nasional dihantam gangguan serius di awal tahun 2026. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang terjadi sejak Jumat, 2 Januari 2026, telah mengganggu produksi minyak nasional.

Insiden ini berdampak langsung pada operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di jalur pipa Grissik-Duri (GD) KP 222, Desa Batu Ampar, Riau. Terhentinya suplai gas memicu tersendatnya pembangkit listrik yang berfungsi mengaktifkan pompa-pompa angguk di blok migas tersebut.

"Sedang ditangani. Jadi ini saya juga besok mau ke sana. Jadi kita akan cek, di wilayah Indra Giri Hilir memang ini harus cepat kita selesaikan karena berdampak pada produksi minyak nasional," tegas Laode saat ditemui dalam penutupan Posko Satgas Nataru di Gedung BPH Migas, Jakarta, Senin (6/1/2026).

Baca Juga: Kejar 1 Juta Barel, Pertamina Resmikan CEOR di Blok Rokan

Pemerintah bergerak cepat menangani masalah ini karena berisiko mengganggu target lifting minyak nasional. Laode menekankan bahwa pemulihan harus dilakukan segera agar tidak merusak proyeksi produksi tahunan.

"Ya, untuk awal tahun itu perlu kita pulihkan ya. Karena nanti berdampak pada proyeksi akhir tahun kita yang 610. Jadi kita harus buru-buru agar pipa ini segera bisa tersambung," ujarnya.

Ia merinci bahwa pipa milik TGI tersebut memegang peranan vital bagi operasional di Rokan. "TGI ini mensuplai gas untuk pembangkitan listrik wilayah-wilayah di ROKAN. Jadi banyak mesin-mesin pompa angguk di sana yang dibangkitkan dengan listrik dan gasnya dari pipa ini. Ini harus segera kita selesaikan," tambah Laode.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Industri Tambang Harus Lebih Ramah Lingkungan

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengonfirmasi bahwa gangguan pasokan gas ini bermula dari kebocoran yang terdeteksi pada Jumat, 2 Januari 2026, sekitar pukul 16.35 WIB.

Eviyanti menjelaskan betapa krusialnya jalur pipa tersebut bagi kelangsungan produksi di lapangan raksasa tersebut.

"Pasokan gas tersebut digunakan untuk mendukung operasi PHR, khususnya pembangkit listrik untuk sumur-sumur minyak serta fasilitas operasi lain dan pembangkit uap untuk operasi Lapangan Duri," jelas Eviyanti kepada Warta Ekonomi, Selasa (6/1/2025).

Saat ini, pihak PHR terus berkoordinasi dengan TGI untuk memitigasi dampak terhadap kegiatan produksi migas nasional.

Ketua Posko Satgas Nataru ESDM, Erika, menyatakan bahwa kerusakan fasilitas ini menjadi fokus utama pemulihan pasca-libur Nataru, terutama untuk pelanggan di wilayah Sumatera bagian utara.

Dengan target perbaikan yang dipatok selesai pada Rabu (7/1), pemerintah berharap fluktuasi produksi minyak nasional dapat segera diredam dan kembali stabil menuju target 610.000 BOPD.

"Terdapat kebocoran pipa gas pada tanggal 2 Januari yang saat ini tengah diperbaiki dan diharapkan bisa dapat segera beroperasi pada tanggal 7 Januari 2026," lapor Erika.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: