Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PHR Putar Otak! Pakai Suplai Energi Sementara, Tapi Produksi Rokan Belum 'Full'

PHR Putar Otak! Pakai Suplai Energi Sementara, Tapi Produksi Rokan Belum 'Full' Kredit Foto: Djati Waluyo
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengakui operasional di Blok Rokan belum kembali ke level normal pasca-insiden kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Meski telah melakukan langkah mitigasi dengan substitusi energi, produksi penuh masih terkendala.

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan tengah mengupayakan berbagai cara agar operasional tetap berjalan. Namun, ketergantungan pada infrastruktur gas yang sedang diperbaiki membuat kapasitas produksi belum optimal.

"Ada supply energi sementara, namun tapi belum bisa full produksi," ungkap Eviyanti pada Warta Ekonomi Selasa (6/1/2026).

Baca Juga: Gas Tersendat Sejak 2 Januari, Mesin Pompa Angguk Rokan Menanti Pasokan TGI Pulih

Eviyanti mengonfirmasi bahwa gangguan pasokan gas terjadi sejak Jumat, 2 Januari 2026, pukul 16.35 WIB akibat kebocoran di jalur pipa Grissik Duri (GD) KP 222, Desa Batu Ampar, Riau. Pasokan gas tersebut sejatinya adalah jantung bagi operasional PHR.

"Pasokan gas tersebut digunakan untuk mendukung operasi PHR, khususnya pembangkit listrik untuk sumur-sumur minyak serta fasilitas operasi lain dan pembangkit uap untuk operasi Lapangan Duri," tambahnya.

Belum pulihnya produksi di Blok Rokan menjadi atensi serius pemerintah. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, menegaskan perlunya percepatan perbaikan karena insiden ini berdampak langsung pada angka lifting minyak nasional.

"Sedang ditangani. Jadi ini saya juga besok mau ke sana. Jadi kita akan cek, di wilayah Indra Giri Hilir memang ini harus cepat kita selesaikan karena berdampak pada produksi minyak nasional," kata Laode.

Pemerintah sangat mewaspadai dampak jangka panjang jika pipa TGI tidak segera tersambung. Laode menyebutkan, keberhasilan mencapai target 610.000 barel per hari (BOPD) sangat bergantung pada kecepatan pemulihan infrastruktur ini.

"Ya, untuk awal tahun itu perlu kita pulihkan ya. Karena nanti berdampak pada proyeksi akhir tahun kita yang 610. Jadi kita harus buru-buru agar pipa ini segera bisa tersambung," tegasnya.

Baca Juga: Kejar 1 Juta Barel, Pertamina Resmikan CEOR di Blok Rokan

Masalah utama terletak pada pasokan listrik yang membangkitkan mesin-mesin produksi. "TGI ini mensuplai gas untuk pembangkitan listrik wilayah-wilayah di ROKAN. Jadi banyak mesin-mesin pompa angguk di sana yang dibangkitkan dengan listrik dan gasnya dari pipa ini. Ini harus segera kita selesaikan," rincinya.

Sementara itu, Ketua Posko Satgas Nataru ESDM, Erika, menyampaikan bahwa proses recovery tengah berjalan intensif. Pemerintah menargetkan infrastruktur vital tersebut dapat kembali beroperasi secara normal pada 7 Januari 2026.

"Terdapat kebocoran pipa gas pada tanggal 2 Januari yang saat ini tengah diperbaiki dan diharapkan bisa dapat segera beroperasi pada tanggal 7 Januari 2026," pungkas Erika.

Hingga saat ini, PHR terus melakukan koordinasi dengan TGI untuk memitigasi dampak kerugian produksi sembari menunggu pipa kembali dialiri gas secara penuh besok.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: