Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Balik Jargon Mobil Listrik 'Ramah Lingkungan', 4 Tahun Lagi Terjadi Ledakan 7 Juta Ton Sampah Baterai Bekas

Di Balik Jargon Mobil Listrik 'Ramah Lingkungan', 4 Tahun Lagi Terjadi Ledakan 7 Juta Ton Sampah Baterai Bekas Kredit Foto: Lestari Ningsih
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hegemoni mobil listrik dari China memang dalam 3-4 tahun terakhir sudah hampir menguasai pasar otomotif di segmen New Energy Vehicle (NEV) di pasar otomotif nasional.

Akan tetapi, digdaya mobil listrik, nyatanya belum bisa menggeser mobil bermesin ICE atau menggunakan pembakaran internal.

Ada banyak alasan mengapa kendaraan listrik belum berkembang pesat, bagi pembeli banyak pertimbangan hingga belum memutuskan untuk beralih ke mobil listrik, sekalipun beragam tawaran yang menggiurkan berdatangan, mulai dari pajak yang jauh lebih rendah, efesiensi bahan bakar dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Pokoknya yang Berbau 'Energi Hijau' Lagi Dimanjakan sama Pemerintah China, Apalagi Mobil Listrik

Slashgear mencatat sebenarnya mobil listrik punya masalah yang lebih besar tentang apa yang harus dilakukan dengan kendaraan listrik setelah mobil dan lebih spesifiknya, baterainya habis masa pakainya.

"Ini adalah masalah yang menjadi sangat besar di pasar Tiongkok, karena iterasi awal dari banyak kendaraan listrik di negara itu telah mulai mencapai akhir masa pakainya. Bahkan, diproyeksikan bahwa sekitar 7 juta ton baterai di kendaraan listrik pasar Tiongkok akan habis masa pakainya pada tahun 2030," catatnya.

Secara global, masalah pembuangan dan daur ulang baterai telah lama diakui sebagai masalah yang muncul seiring dengan adopsi kendaraan listrik yang lebih luas.

Untuk itu, telah ada perkembangan yang menjanjikan dalam hal daur ulang komponen, seperti metode untuk memanen litium murni 99% dari baterai EV bekas.

Namun di Tiongkok, pertumbuhan EV yang sangat pesat selama dekade terakhir telah menyebabkan masalah "baterai bekas" yang besar dan terus berkembang yang membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta membuka pintu bagi operasi kriminal yang berbahaya.

"Mengapa Tiongkok khususnya mengalami masalah ini secara signifikan? Karena kecepatan dan skala adopsi kendaraan listrik di negara tersebut, dan juga kemajuan pesat kendaraan itu sendiri. Meskipun Barat telah memberikan banyak dukungan untuk adopsi EV selama dekade terakhir, hal itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan Tiongkok, yang telah menggunakan dukungan pemerintah yang besar untuk mengembangkan industri "Kendaraan Energi Baru" menjadi pemimpin dunia. Dan dalam banyak hal, ini telah menempatkan Tiongkok di depan Barat dalam hal teknologi dan infrastruktur EV," jelasnya.

MIT Technology Review melakukan investigasi terhadap masalah yang berkembang ini dan menemukan bahwa infrastruktur daur ulang baterai di Tiongkok sama sekali tidak sejalan dengan skala adopsi kendaraan listriknya.

Baca Juga: 'Demam' Mobil Listrik China Juga Mewabah di Norwegia

Di Tiongkok, banyak pendaur ulang yang tidak diatur ini bermain dengan aturan mereka sendiri. Karena mereka menghindari peraturan pemerintah, mereka seringkali dapat membayar lebih untuk baterai lama, yang pada gilirannya dapat disusun ulang dan dijual kembali sebagai paket baterai "baru" yang sebenarnya bukan baru.

Lebih buruk lagi, ketika baterai terlalu rusak atau terdegradasi untuk digunakan kembali, baterai tersebut kemudian dihancurkan dan dijual sebagai logam mentah.

Tanpa aturan yang dipatuhi, proses ini dapat menjadi risiko kebakaran besar dan sangat berbahaya bagi lingkungan, karena kebocoran bahan kimia dan air limbah yang terkontaminasi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: