Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PIS Perkuat Komitmen Konservasi Laut dengan Tandai 4 Hiu Paus di Perairan Derawan

PIS Perkuat Komitmen Konservasi Laut dengan Tandai 4 Hiu Paus di Perairan Derawan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pertamina International Shipping (PIS) memperkuat komitmen dalam upaya pelestarian populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Indonesia dengan melakukan penandaan terhadap empat ekor individu baru di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Dengan penambahan ini, PIS tercatat telah berhasil menandai total tujuh ekor hiu paus dalam kurun waktu dua tahun terakhir sebagai bagian dari program konservasi berkelanjutan.

Kegiatan yang bekerja sama dengan yayasan Konservasi Indonesia ini menjadi langkah penting dalam mendukung studi dan observasi terhadap spesies ikan terbesar di dunia tersebut. Keempat hiu paus yang baru ditandai ini diberi identitas sesuai dengan nama kapal tanker milik PIS, yaitu Pride, Prime, Bangka, dan Belitung, guna mempermudah pemantauan data pergerakan mereka di masa depan.

“Tujuan utama tagging hiu paus ini adalah bagaimana kami dari PIS dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian fauna di Indonesia. Data-data yang kami kumpulkan bersama mitra yang berpengalaman diharapkan dapat mendukung upaya menjaga satwa yang sangat penting di lautan Indonesia. Dengan demikian, kami juga bisa mengatur operasional kami sehingga dapat berdampak positif terhadap keberlangsungan satwa tersebut,” ujar Manager CSR PIS Alih Istik Wahyuni.

Seperti yang disebutkan, salah satu tujuan penandaan hiu paus ini juga agar PIS dapat mengenali rute-rute yang biasa dilintasi oleh populasi hiu paus di Nusantara sehingga kapal-kapal mereka dapat menghindari tabrakan rute yang sama. Dari hasil penelitian sejumlah pihak, tabrakan dengan kapal-kapal besar menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian hiu paus dan penurunan populasinya.

“Data-data yang kami dapatkan dari hasil tagging hiu paus ini akan membantu kami memetakan jalur-jalur dan migrasi hiu paus tersebut. Data ini akan kami integrasikan dengan data pelayaran yang kami punya sehingga kami bisa meminimalisasi potensi risiko tabrakan hiu paus dengan kapal-kapal yang dioperasikan PIS. Dengan begitu kami juga bisa berkontribusi untuk menjaga kelestarian hiu paus di Indonesia,” imbuh Alih.

Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, menjelaskan saat ini populasi hiu paus di dunia menghadapi sejumlah ancaman atas keberlangsungan hidupnya. Ancaman tersebut diperkirakan telah menyebabkan populasi hiu paus turun lebih dari 50%. Kabar baiknya, melalui upaya pemulihan yang terus dilakukan berbagai pihak, populasi hiu paus mungkin pulih dalam 100 tahun ke depan.

“Tabrakan dengan kapal, polusi laut, perubahan iklim, tidak sengaja tertangkap, dapat menyebabkan hiu paus terdampar di bibir pantai di berbagai tempat. Keterdamparan ini menjadi perhatian para peneliti karena hal ini menjadi faktor yang mengganggu upaya pemulihan populasi hiu paus. Dengan terus menandai individu hiu paus yang tersebar di Indonesia, termasuk di perairan Derawan, PIS dan Konservasi Indonesia dapat terus menghimpun data yang penting untuk mempelajari koridor migrasi hiu paus yang pada akhirnya dapat melindungi spesies yang terancam punah tersebut,” terang Iqbal.

Penandaan hiu paus (whale shark tagging) adalah bagian dari program “Marine BiodiverSEAty” yang berada di bawah payung program “BerSEAnergi untuk Laut”, sebuah inisiatif CSR PIS di bawah pilar Environmental Preservation. Melalui program ini, PIS menegaskan komitmennya dalam melindungi hiu paus, spesies payung yang saat ini masuk dalam kategori terancam punah menurut daftar IUCN. Penandaan dilakukan menggunakan perangkat tag satelit yang memungkinkan peneliti melacak pola pergerakan, jalur migrasi, dan habitat kritis hiu paus di sekitar ekosistem Derawan dan wilayah perairan Indonesia yang lebih luas.

Melalui program Marine BiodiverSEAty, PIS menegaskan komitmennya terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14: Life Below Water, sekaligus memperkuat upaya nasional dan global dalam pelestarian keanekaragaman hayati laut. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan model kolaborasi konservasi yang berkelanjutan, berbasis data, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga nasional.

Pada tahun lalu, kegiatan serupa juga dijalankan PIS di perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kala itu, PIS berhasil menandai 3 ekor hiu paus. Setelah sukses menandai total 7 individu hiu paus di Kwatisore dan Kepulauan Derawan, PIS menyebut pihaknya akan terus melanjutkan program ini guna memperbanyak data untuk dipelajari.

Baca Juga: Target Lifting 2025 Tercapai, Pakar Ungkap Peran Krusial Pertamina

“Kami akan melanjutkan program ini agar kami dapat memetakan risiko tabrakan kapal dengan hiu paus (Whale Shark–Ship Collision Risk Map) serta rekomendasi mitigasi dan masukan teknis bagi pengembangan SOP keselamatan laut,” tegas Alih.

Berdasarkan laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu paus merupakan salah satu hewan yang masuk ke dalam daftar merah terancam punah sejak 2016. Sejak itu upaya konservasi hiu paus terus digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk oleh PIS sebagai perusahaan yang bergerak di industri maritim dan memiliki perhatian besar untuk keberlanjutan ekosistem kelautan Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: