Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Krakatau Steel Siap Tangkap Peluang Kebutuhan Baja dari PSN

Krakatau Steel Siap Tangkap Peluang Kebutuhan Baja dari PSN Kredit Foto: Krakatau Steel
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bersiap menangkap peningkatan permintaan baja nasional seiring dimulainya sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2025, yang diperkirakan mendorong konsumsi baja secara signifikan dalam jangka menengah hingga panjang. Perusahaan pelat merah ini menempatkan agenda PSN sebagai penggerak utama permintaan domestik, khususnya dari sektor kawasan industri dan konektivitas.

Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji menyatakan, pelaksanaan PSN periode 2025–2029 akan membentuk struktur permintaan baja baru yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurutnya, proyek-proyek tersebut tidak hanya bersifat pembangunan fisik, tetapi menciptakan efek berantai terhadap pertumbuhan industri manufaktur dan logistik nasional.

“PSN 2025–2029 tidak sekadar membangun proyek publik, tetapi membuka struktur permintaan baja baru yang berasal dari tumbuhnya kawasan industri, logistik, manufaktur, dan hilirisasi. Ketika infrastruktur publik terhubung dengan kawasan industri, multiplier konsumsi baja akan bergerak bertahap menuju level negara industri,” ujar Widodo dalam keterangannya, Selasa (13/1/2025).

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Jaminkan Aset Rp13,94 Triliun ke Danantara

Ia menjelaskan, pembangunan PSN dilakukan secara bertahap dan mencakup tujuh kelompok strategis, yakni pangan, air, energi, hilirisasi, transformasi digital, pembangunan manusia, kawasan industri, serta konektivitas. Dari seluruh kelompok tersebut, kebutuhan baja terbesar diperkirakan berasal dari pengembangan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Widodo mencatat, kebutuhan baja untuk kawasan industri dan KEK diproyeksikan mencapai sekitar 12,4 juta ton. Sementara proyek konektivitas seperti jalan, rel kereta api, pelabuhan, bandara, serta utilitas kawasan diperkirakan menyerap sekitar 8,9 juta ton baja. Kedua sektor tersebut dinilai menjadi fondasi utama bagi ekspansi manufaktur dan distribusi barang secara nasional.

Dalam proyeksinya, konsumsi baja nasional pada periode 2026–2029 diperkirakan meningkat dari sekitar 23 juta ton menjadi 32 juta ton. Tren kenaikan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2030–2034 dengan rata-rata konsumsi 36 juta ton per tahun, lalu melonjak menjadi 59,5 juta ton per tahun pada 2035–2039. Bahkan, pada periode 2040–2045 konsumsi baja nasional berpotensi menembus 100 juta ton per tahun.

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Terima Suntikan Dana Rp4,9 Triliun dari Danantara

Menanggapi proyeksi tersebut, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Akbar Djohan menyatakan bahwa perseroan memandang PSN sebagai peluang strategis untuk memperkuat peran industri baja nasional. KRAS, menurutnya, tengah menyiapkan langkah transformasi dan peningkatan kapasitas guna merespons kebutuhan pasar domestik yang terus membesar.

“Kami siap bertransformasi dan memperluas kapasitas agar Indonesia tidak lagi bergantung pada baja impor,” ujar Akbar.

Ia menambahkan, peningkatan konsumsi baja akibat PSN perlu diimbangi dengan penguatan industri hulu nasional agar manfaat pembangunan dapat terserap maksimal di dalam negeri. Dalam konteks tersebut, keberlanjutan PSN dipandang tidak hanya menentukan arah pembangunan infrastruktur, tetapi juga masa depan industri baja nasional dalam jangka panjang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: