Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Asosiasi Ekosistem Kendaraan Listrik (AEML) menilai keberadaan pabrik baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia tidak otomatis membuat harga mobil listrik langsung turun di tingkat ritel. AEML menilai penurunan harga di showroom dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya biaya produksi baterai.
Sekretaris Jenderal AEML Rian Ernest mengatakan, pabrik baterai lokal memang berpotensi menurunkan biaya melalui efisiensi logistik dan pasokan, namun dampaknya terhadap harga jual kendaraan bersifat tidak langsung. Pernyataan itu disampaikan di tengah percepatan program hilirisasi nikel yang digencarkan pemerintah.
“Pabrik baterai lokal bisa menurunkan biaya, tapi menurunkan harga di showroom itu cerita lain—tergantung pajak, insentif, kurs, dan kompetisi,” ucap Rian kepada Warta Ekonomi, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Alasan Polytron Memakai Baterai LFP yang Diklaim Cocok untuk Cuaca di Indonesia
Indonesia saat ini mendorong hilirisasi nikel menjadi baterai kendaraan listrik. Salah satu proyek utama adalah pengembangan pabrik baterai terintegrasi oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. Proyek ini digarap bersama konsorsium global PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd (CBL).
Proyek terintegrasi tersebut mencakup enam proyek strategis, termasuk pengolahan nikel di Kawasan FHT Halmahera Timur dan fasilitas manufaktur baterai di Karawang, Jawa Barat. Hingga Januari 2026, instalasi mesin manufaktur otomatis di pabrik Karawang dilaporkan telah rampung. Fasilitas itu dijadwalkan memulai operasi komersial pada akhir 2026 dengan kapasitas awal 6,9 GWh dan diproyeksikan meningkat hingga 15 GWh pada 2028.
Rian menjelaskan, porsi biaya baterai dalam struktur harga kendaraan listrik yang sebelumnya mencapai sekitar 40% per unit kini cenderung menurun seiring kemajuan teknologi. International Energy Agency (IEA) mencatat harga rata-rata battery pack global turun lebih dari 25% pada 2024 dibandingkan 2023.
“Pabrik lokal bisa memperkuat tren ini lewat efisiensi logistik dan pasokan. Tapi supaya harga jual turun, harus ada kombinasi: biaya baterai turun, kompetisi model EV meningkat, dan/atau kebijakan fiskal (pajak/insentif) maupun nonfiskal (seperti ganjil-genap di kota besar) mendukung, serta suku bunga pembiayaan tidak terlalu menekan cicilan,” imbuhnya.
Baca Juga: Tak Ada Kepastian terkait Skema Insentif untuk Mobil Listrik, Pasar EV Bisa Mengalami Stagnasi
Di sisi lain, AEML menilai kehadiran pabrik baterai terintegrasi memberikan dampak struktural yang lebih luas bagi industri. Rian menyebut fasilitas tersebut berfungsi sebagai anchor yang menarik investasi pendukung ke dalam negeri, mulai dari penyedia material, komponen, hingga industri daur ulang.
“Pabrik baterai lokal itu bukan sekadar pabrik biasa. Ini adalah jangkar yang memicu investasi lain untuk masuk, mulai dari penyedia material, komponen, hingga industri daur ulang (recycling),” sambung Rian.
Menurutnya, dampak paling cepat dirasakan industri adalah kepastian pasokan bagi produsen kendaraan (original equipment manufacturer/OEM). Standar kualitas yang jelas di dalam negeri dinilai dapat menurunkan hambatan masuk bagi pemasok lokal serta mempercepat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi tinggi.
Langkah hilirisasi ini juga sejalan dengan upaya mengubah cadangan nikel Indonesia menjadi produk bernilai tambah. Data USGS 2024 menunjukkan cadangan nikel Indonesia mencapai 55 juta ton, terbesar di dunia. Dari sisi pasar, Gaikindo mencatat penjualan mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) roda empat melonjak dari 687 unit pada 2021 menjadi 103.931 unit pada 2025.
“Itu adalah modal tawar kita. Tapi nilainya baru benar-benar naik jika sudah menjadi produk bernilai tinggi. Ukuran daya saing kita bukan lagi berapa ton bijih nikel yang dihasilkan, melainkan kualitas sel baterai dan kemampuan industri yang konsisten serta memenuhi standar pabrikan global,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement