Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Sejumlah saham yang disebut-sebut berpeluang masuk indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) justru melemah pada perdagangan Rabu (21/1/2026), di tengah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang peninjauan indeks MSCI Februari 2026. Tekanan muncul seiring spekulasi pasar terkait potensi perubahan pendekatan MSCI dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan hingga jelang penutupan sesi II pukul 15.44 WIB, sejumlah saham yang masuk radar MSCI bergerak di zona merah. Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun 4,97% ke level Rp11.950. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah 3,16% ke Rp1.995, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkoreksi paling dalam sebesar 6,76% ke posisi Rp386. Adapun PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 2,75% ke level Rp12.400.
Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi, Dana Rp33,8 Triliun Terancam Keluar dari Pasar Modal Indonesia
Riset Mirae Asset Sekuritas menyebutkan tekanan terhadap saham-saham tersebut terjadi di tengah menguatnya spekulasi perubahan metodologi MSCI, khususnya terkait perhitungan free float. MSCI disebut membuka peluang penggunaan Monthly Holding Composition Report (MHCR) dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam mengidentifikasi kepemilikan saham.
Penyesuaian pendekatan ini dinilai berpotensi mengubah peta peluang emiten Indonesia untuk masuk indeks global, sekaligus meningkatkan kehati-hatian investor dalam menilai kesiapan masing-masing saham, terutama dari sisi likuiditas dan struktur kepemilikan.
Secara konsep, free float dihitung dari total saham beredar setelah dikurangi kepemilikan investor strategis seperti pemerintah atau pendiri. Namun, struktur kepemilikan perusahaan di Indonesia yang kompleks kerap menyulitkan identifikasi pemegang saham strategis. Isu ini sebelumnya telah disoroti MSCI dalam dokumen konsultasi yang dirilis pada September lalu.
Dalam konteks pasar domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merespons isu tersebut dengan rencana menaikkan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 10%–15%, dengan target jangka panjang sebesar 25%. Meski demikian, hingga kini belum terdapat tenggat waktu resmi penerapannya. Sebagai perbandingan, Hong Kong dan India telah menetapkan batas minimum free float sebesar 25%, sementara Thailand sebesar 15%.
Mirae Asset menilai PANI secara kapitalisasi pasar telah memenuhi kriteria MSCI, namun masih menghadapi tantangan pada porsi saham yang beredar di publik. “Kondisi tersebut membuat pergerakan harga sahamnya rentan terhadap aksi ambil untung di tengah tingginya valuasi,” jelas Mirae Asset.
Baca Juga: Saham-saham Ini Masuk Radar Jelang Rebalancing MSCI
Sementara itu, ADMR dinilai menunjukkan perbaikan likuiditas transaksi dan stabilitas kinerja operasional. Namun, pergerakan harga sahamnya tetap tertekan seiring fluktuasi sektor tambang secara keseluruhan.
BUMI disebut sebagai salah satu kandidat kuat masuk MSCI Standard Cap Index, didukung volume transaksi besar dan basis investor yang luas. Kendati demikian, tekanan jual menunjukkan pasar belum sepenuhnya mengantisipasi peluang tersebut dalam jangka pendek. PTRO juga menghadapi kondisi serupa. Meski saat ini berada dalam MSCI Small Cap Indonesia Index dan berpeluang naik kelas, saham tersebut tetap bergerak seiring koreksi pasar.
“Alih-alih merespons sentimen global secara langsung, investor cenderung menyesuaikan posisi dengan mempertimbangkan likuiditas aktual, struktur kepemilikan, serta potensi perubahan bobot indeks,” jelas Mirae Asset.
Selain berdampak pada saham individual, dinamika MSCI juga berpotensi memengaruhi pergerakan sektoral. Ketika satu emiten masuk indeks global, investor institusi kerap melakukan pendekatan berbasis sektor. “Namun, pada fase pra-pengumuman, pola tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam pergerakan harga,” pungkas Mirae.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement