Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Anggota Komisi XI DPR Hasanuddin Wahid mewanti-wanti Bank Indonesia (BI) agar bersikap tegas, terukur, dan responsif dalam menghadapi tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan telah menembus level Rp16.955 per dolar AS.
Menurutnya, kondisi ini tidak boleh dipandang sebagai dinamika biasa pasar keuangan global semata, melainkan harus direspons melalui langkah kebijakan yang kuat dan terkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta kepercayaan pelaku pasar.
"Bank Indonesia perlu memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter yang terukur, termasuk intervensi pasar valuta asing serta penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah," katanya.
Sekjen DPP PKB itu mendorong Kementerian Keuangan untuk tetap menjaga kredibilitas dan disiplin fiskal, khususnya dalam pengelolaan defisit anggaran dan pembiayaan utang secara pruden.
Langkah tersebut dinilai krusial guna meredam sentimen negatif pasar terhadap perekonomian Indonesia.
“Kepercayaan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh konsistensi dan kehati-hatian fiskal. Pemerintah harus memastikan arah kebijakan fiskal tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia meminta koordinasi erat dan berkelanjutan antara kebijakan fiskal dan moneter, agar respons pemerintah dan otoritas moneter terhadap tekanan nilai tukar bersifat terpadu, cepat, dan efektif.
Tak kalah penting, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal, antara lain melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pengendalian impor strategis, serta optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) agar pasokan valuta asing di dalam negeri tetap terjaga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement