Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Meski Produksi Papua Terhambat, Laba Freeport Naik 16,7% di 2025

Meski Produksi Papua Terhambat, Laba Freeport Naik 16,7% di 2025 Kredit Foto: Freeport Indonesia
Warta Ekonomi, Amerika -

Freeport-McMoRan (FCX) membukukan kinerja keuangan solid sepanjang 2025 meski operasional tambang di Papua sempat terganggu. Induk usaha PT Freeport Indonesia itu mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham biasa sebesar US$2,2 miliar atau setara Rp37,18 triliun, tumbuh 16,7 persen dibandingkan laba tahun 2024 yang mencapai Rp31,94 triliun.

Kenaikan laba tersebut diraih di tengah fluktuasi harga komoditas global dan tekanan produksi akibat insiden lumpur (mud rush) di area penambangan Papua pada September 2025. Meski demikian, Freeport mampu menjaga kinerja keuangan melalui optimalisasi penjualan dan efisiensi biaya.

Pendapatan konsolidasi Freeport sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp437,76 triliun, meningkat dari Rp429,31 triliun pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut didorong oleh realisasi penjualan tembaga konsolidasi sebesar 709 juta pon serta penjualan emas yang mencapai 80 ribu ons, atau 33 persen di atas proyeksi awal perusahaan.

Baca Juga: Produksi Freeport Indonesia Anjlok Nyaris 90% di Kuartal IV 2025

Manajemen FCX menjelaskan, pencapaian penjualan yang melampaui target tersebut merupakan hasil dari strategi pengurangan persediaan (stockpile) yang dilakukan secara agresif di Indonesia. Pelepasan stok ini menjadi penyeimbang di saat volume produksi sempat tertekan akibat gangguan operasional di Papua.

Meski produksi terdampak, Freeport tercatat mampu menjaga efisiensi biaya. Biaya kas neto konsolidasian perusahaan berada di level Rp37.522 per pon tembaga, lebih rendah dibandingkan estimasi pasar yang berada di kisaran Rp41.747 per pon.

Manajemen FCX juga menyampaikan perkembangan pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang dinilai berjalan sesuai rencana. Presiden dan CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk menegaskan pemulihan operasi Grasberg menjadi fokus utama perusahaan memasuki 2026.

“Memasuki tahun 2026, tim kami memiliki fokus yang jelas untuk memulihkan operasi di Grasberg secara aman dan berkelanjutan,” tegas Quirk, Kamis (22/1).

Baca Juga: Dituding Tambang Ilegal di Seba-Seba, Bos Vale: Kami Tak Berani Tanpa Izin

FCX menjadwalkan pembukaan kembali tambang GBC secara bertahap mulai kuartal II/2026. Pemulihan ini menjadi krusial mengingat sekitar 75 persen dari total target penjualan emas Freeport pada 2026 bergantung pada kelancaran operasional di semester kedua tahun depan.

Di sisi hilirisasi, proyek smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, telah beroperasi penuh. Beroperasinya fasilitas ini menjadikan Freeport sebagai produsen tembaga yang terintegrasi dalam rantai pasok global.

Laporan kinerja tersebut juga mengonfirmasi bahwa diskusi antara FCX dan Pemerintah Indonesia terkait perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) setelah 2041 terus berlangsung positif. Manajemen menargetkan pengajuan aplikasi resmi perpanjangan izin pada 2026.

Dengan posisi kas sebesar Rp72,67 triliun dan total likuiditas mencapai Rp123,38 triliun pada akhir 2025, Freeport memiliki ruang finansial yang kuat untuk membiayai proyek pertumbuhan dan memenuhi kewajiban kepada pemegang saham.

“Kami optimis dengan prospek jangka panjang tembaga sebagai komoditas inti dalam ekonomi global saat ini dan masa depan,” tutup Quirk.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: