Kredit Foto: Cita Auliana
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dicky Kartikoyono, memaparkan visi dan misinya dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang digelar Komisi XI DPR RI, Senin (26/1/2026).
Dicky yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran sekaligus Asisten Gubernur BI Perry Warjiyo, mengusung visi bertajuk “Mengukir Sejarah Digital untuk Indonesia Emas” sebagai landasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dalam paparannya, Dicky menyampaikan tiga misi utama. Misi pertama adalah membangun fondasi ekonomi nasional yang berdaya tahan dan efisien melalui penguatan infrastruktur sistem pembayaran guna mendukung ekonomi dan keuangan digital. Misi kedua, mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang terpercaya serta inovatif.
Baca Juga: Kembali Dicalonkan Jadi Deputi, Siapa Dicky Kartikoyono Pejabat BI Berharta Rp8,39 Miliar?
Ia menegaskan pentingnya sistem keuangan domestik yang robust, aman, dan memiliki daya tahan tinggi. Menurutnya, hal tersebut harus ditopang oleh sistem deteksi penipuan (fraud detection system) serta kemampuan analitik yang kuat dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Jadi banyak sekali yang kita bisa lakukan untuk menyakinkan bahwa sistem pembayaran kita terpercaya dan inovatif,” kata Dicky di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Misi ketiga, adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berdaulat. Upaya tersebut selaras dengan program Asta Cita Pemerintah khususnya melalui kontribusi sistem pembayaran terhadap sektor riil.
Dicky juga menyoroti pesatnya perkembangan digitalisasi dalam lima tahun terakhir melalui implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan BI-FAST.
Dicky mengatkan Bank Indonesia, memproyeksikan nilai transaksi ekonomi digital dapat mencapai 147,3 miliar dalam beberapa tahun ke depan, setelah tumbuh sekitar 37 miliar dalam lima tahun terakhir.
Meski demikian, Dicky mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam mendorong digitalisasi, antara lain ketimpangan infrastruktur, kualitas tenaga kerja digital, serta melemahnya daya beli masyarakat.
Menurutnya, digitalisasi harus ditegakkan sebagai game changer untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.
“Untuk mendorong digitalisasi kita juga menghadapi tantangan infrastruktur yang belum rata, kemudian kita punya juga concern bagaimana kualitas tenaga kerja kita mengisi ruangan-ruangan untuk bisa berkontribusi dalam lapangan kerja yang semakin hari semakin menantang,” terangnya.
Namun demikian, Dicky mengakui tantangan terbesar terletak pada ketersediaan talenta digital. Untuk itu, ia mengusulkan pembentukan pusat inovasi digital Indonesia sebagai wadah pelatihan talenta digital.
“Kita bekali dengan kemampuan-kemampuan terkini yang menjadi kolaborasi antara industri dan tentu-tentu kementerian lembaga disini kita akan mempunyai sebuah training ground yang akan bisa menjawab tantangan-tantangan tadi,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait:
Advertisement