Jaga Stabilitas dan Tingkatkan Daya Saing, Pemerintah Gunakan 3 Mesin Ekonomi
Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Dalam memastikan stabilitas makroekonomi dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Pemerintah menggunakan tiga mesin untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mengungkapkan mesin tersebut adalah penguatan sektor industri, pemanfaatan teknologi maju, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Ini disampaikannya saat melakukan dialog dengan mahasiswa dan alumni Departemen Teknik Mesin UGM di Yogyakarta, Jumat (6/02/2026).
”Saya akan bicara sedikit bagaimana mengatur ekonomi dengan cara mesin. Waktu penanganan Covid, kebijakan yang di dorong adalah gas dan rem. Nah, Itu sangat teknis, tapi disampaikan secara nasional. Sekarang kita bicara tiga mesin pertumbuhan ekonomi, dan pendekatan itu tetap sama, bagaimana mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas,” ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Minggu (8/2).
Menko Airlangga menyampaikan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Target tersebut diupayakan melalui penguatan sektor-sektor penggerak utama, khususnya industri manufaktur, energi dan teknologi masa depan, serta konstruksi, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan riset dan keunggulan sumber daya manusia.
Kinerja ekonomi nasional hingga akhir 2025 menunjukkan tren yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tercatat sebagai yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5%. Stabilitas makroekonomi juga tercermin dari inflasi yang terjaga di level 3,55% (yoy), neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus beberapa tahun terakhir, serta cadangan devisa yang mencapai sekitar USD156 miliar.
Dalam kerangka transformasi ekonomi, Pemerintah mengusung konsep tiga mesin pertumbuhan ekonomi (three engines of growth). Mesin pertama difokuskan pada penguatan industri manufaktur dan industri padat karya, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, serta industri otomotif termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Industri tekstil dinilai tetap relevan dan berkelanjutan karena kebutuhan global yang terus meningkat, sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja di dalam negeri.
Mesin kedua diarahkan pada pembangunan ekonomi berbasis teknologi dan inovasi melalui penguatan digitalisasi, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan semikonduktor. Pemerintah menekankan pentingnya investasi riset dan pengembangan (R&D) serta penguatan rantai nilai industri, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi semakin bertumpu pada teknologi dan kualitas sumber daya manusia.
“S-Curve itu pelajaran innovation di teknik industri. Jadi S-Curve itu di manapun harus ada R&D investment dan saya mendorong ekonomi Indonesia base-nya juga S-Curve, selalu ada research dan ke depan itu barangnya apa yang harus kita menjadi kuat,” ujar Menko Airlangga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: