Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rayakan Perjanjian Dagang Bernilai USD 10 Miliar, Dubes Fadjroel Rachman dan Uni Ekonomi Eurasia Diskusikan Road Map

Rayakan Perjanjian Dagang Bernilai USD 10 Miliar, Dubes Fadjroel Rachman dan Uni Ekonomi Eurasia Diskusikan Road Map Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Fadjroel Rachman, bersama para duta besar dari Belarus, Armenia, Kyrgystan, dan Rusia serta perwakilan Kementerian Ekonomi Kazakhstan menggelar pertemuan di Wisma Indonesia, Astana, pada awal Februari 2026. Pertemuan tersebut menjadi ajang perayaan sederhana atas penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).

Sebelumnya, perjanjian perdagangan bebas Indonesia dan EAEU telah ditandatangani pada 21 Desember 2025 di Saint Petersburg, Rusia. Saat itu, Indonesia diwakili oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso. Penandatanganan tersebut disaksikan langsung oleh para kepala negara anggota EAEU, antara lain Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dalam pertemuan di Astana, Dubes Fadjroel menyampaikan bahwa diskusi difokuskan pada implementasi FTA melalui penyusunan peta jalan (road map) serta penetapan target perdagangan baru dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Para duta besar negara anggota EAEU terlihat antusias membahas peluang kerja sama, sambil menikmati sajian kuliner Indonesia.

Menurut Dubes Fadjroel, FTA Indonesia-EAEU merupakan “jembatan emas” yang menghubungkan dua kawasan besar. Indonesia memiliki populasi sekitar 280 juta jiwa dengan nilai ekonomi sekitar USD1,4 triliun, sedangkan kawasan EAEU mencakup sekitar 180 juta jiwa dengan kekuatan ekonomi sekitar USD2 triliun. Melalui perjanjian ini, nilai perdagangan Indonesia-EAEU yang pada 2025 tercatat sekitar USD5,2 miliar ditargetkan dapat meningkat menjadi lebih dari USD10 miliar dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Khusus hubungan Indonesia dan Kazakhstan, nilai perdagangan ditargetkan mencapai USD2 miliar. Dubes Fadjroel meyakini bahwa keterbukaan perdagangan akan mendorong peningkatan investasi dan pariwisata antara Indonesia dan lima negara anggota EAEU.

Perjanjian perdagangan bebas ini terdiri atas 15 bab yang mencakup akses pasar, fasilitasi perdagangan, dan kerja sama ekonomi. Salah satu poin pentingnya adalah pemberian tarif preferensial hingga 90,5 persen untuk produk Indonesia, yang mencakup 95,1 persen dari total impor EAEU dari Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa produk Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Beberapa produk unggulan Indonesia yang diproyeksikan meningkat ekspornya antara lain minyak sawit dan turunannya, kakao, kopi, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, produk perikanan, karet alam, furnitur, serta elektronik. Sebaliknya, Indonesia juga akan membuka peluang lebih besar bagi produk dari Kazakhstan dan negara EAEU lainnya seperti pupuk, besi, dan minyak mentah.

Dubes Fadjroel juga mendukung pernyataan Ketua Komisi Ekonomi Eurasia, Bakytzhan Sagintayev, yang menyebut implementasi FTA ini berpotensi menggandakan nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU. Ia menilai Kazakhstan memiliki peran strategis karena memiliki GDP per kapita sekitar USD15.000 dengan populasi sekitar 20 juta jiwa.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: