Kredit Foto: BPMI Setpres
Galau D. Muhammad, Peneliti di Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menilai klaim efisiensi anggaran Rp300 triliun yang disebut berasal dari pemangkasan belanja tidak produktif tidak menjawab persoalan fiskal yang lebih mendasar, terutama stagnasi penerimaan negara dan meningkatnya beban utang.
“Dan bagaimana klaim yang disampaikan bahwa anggaran Rp300 triliun sudah diamankan dengan memangkas belanja yang tidak produktif. Ada permasalahan yang sangat sistemik yang terjadi di sisi fiskal hari ini,” ujar Galau, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa tren penerimaan negara belum mencapai target Rp2.800 triliun. Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga disebut mengalami stagnasi sehingga menimbulkan hambatan krusial di sisi pendapatan.
“Jadi trennya kalau dilihat tidak mencapai target. Angka Rp2.800 triliun yang ditargetkan sebagai penerimaan negara kalau kita lihat di sisi penerimaan negara bukan pajak, itu trennya mengalami stagnasi,” katanya.
Di sisi lain, beban bunga utang dinilai meningkat signifikan. Ia menyebutkan bahwa total utang pemerintah kini sekitar Rp9.000 triliun dan berpotensi terus bertambah di tengah kebutuhan pembiayaan program berbiaya besar.
“Dan dilihat dengan kondisi demikian ini bukan efisiensi,” tegasnya.
Baca Juga: Prabowo Klaim Efisiensi Anggaran Sudah Capai Rp308 Triliun, Jadi Modal MBG
Ia menilai pemerintah perlu memastikan tidak ada potensi penerimaan yang hilang akibat insentif perpajakan yang tidak tepat sasaran, terutama di sektor ekstraktif.
“Harusnya ada upaya tegas untuk memastikan tidak ada nilai yang hilang,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Fajar Sulaiman