Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sandwich Generation, 77% Pekerja Indonesia Ingin Tetap Bekerja Setelah Pensiun

Sandwich Generation, 77% Pekerja Indonesia Ingin Tetap Bekerja Setelah Pensiun Kredit Foto: Unsplash/Gita Krishnamurti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sandwich generation berdampak langsung pada kesiapan pensiun.

Tekanan finansial untuk menopang orang tua sekaligus anak, kini menjadi realitas bagi 90% pekerja di Indonesia.

Temuan tersebut terungkap dalam survei Sun Life bertajuk Membayangkan Kembali Pensiun: Kesenjangan Pensiun di Asia.

40% responden mengaku menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun, sedangkan 23% menunda atau memperkirakan harus terus bekerja setelah mencapai usia pensiun.

Baca Juga: OJK Pelototi 6 Asuransi dan 7 Dana Pensiun Bermasalah

Studi ini juga mencatat 77% responden Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun.

Tekanan ini muncul di tengah perubahan demografi.

Data ESCAP (2023) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang (11,1% populasi) pada 2023, dan diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta orang (20,5%) pada 2050.

Peningkatan usia harapan hidup memperpanjang masa produktif sekaligus memperbesar kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang.

Sebanyak 71% responden menyatakan mereka membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang biaya hidup, dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.

Bagi sebagian responden, bekerja lebih lama mencerminkan pilihan pribadi.

Baca Juga: OJK Ungkap Investasi Asuransi dan Dana Pensiun di Saham Masih Kecil

Namun bagi sebagian lain, hal tersebut merupakan konsekuensi tekanan ekonomi.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo melihat dua realitas yang berbeda.

"Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan."

"Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi."

"Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” tuturnya lewat keterangan tertulis yang dilihat Warta Ekonomi pada Sabtu (21/2/2026).

Riset ini mengelompokkan responden menjadi dua kategori, Gold Star Planners yang telah mempersiapkan pensiun secara matang, dan Stalled Starters yang menunda perencanaan.

Baca Juga: Kripto Bisa jadi Opsi Persiapan Dana Pensiun, Upbit Indonesia Beri Pertimbangannya

Sebanyak 43% responden yang menunda pensiun, menyebut kebutuhan membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak sebagai alasan utama.

Survei juga mencatat perubahan perilaku dalam mencari informasi finansial.

Penggunaan generative AI untuk mendukung pengambilan keputusan finansial, meningkat dari 13% menjadi 30% dibanding survei sebelumnya.

Sebaliknya, proporsi responden yang berkonsultasi dengan bank, turun dari 40% menjadi 31%, dan yang berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44% menjadi 31%.

Menurut Albertus, teknologi dapat menjadi sumber informasi awal, tapi keputusan jangka panjang tetap memerlukan pertimbangan menyeluruh.

“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang."

Baca Juga: Lewat Program ini, Bank Aladin Syariah Perkuat Layanan Nasabah Pensiunan

"Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman."

"Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting, menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan."

"Serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan,” papar Albertus.

Dari sisi psikologis, keamanan finansial berkorelasi dengan optimisme terhadap pensiun.

Di antara responden yang optimistis, 60% menyebut rasa aman secara finansial sebagai faktor utama.

Sebaliknya, kekhawatiran terbesar bagi mereka yang gelisah menghadapi pensiun adalah ketidakmampuan memberi dukungan finansial kepada keluarga (44%).

Hingga 24% responden mengaku tidak memiliki rencana pensiun, dan 34% baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu.

Hanya 38% yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka. (*) 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yaspen Martinus
Editor: Yaspen Martinus

Bagikan Artikel: