Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Menguat ke Rp16.759 Saat Pasar Respons Kebijakan Tarif Impor Trump

Rupiah Menguat ke Rp16.759 Saat Pasar Respons Kebijakan Tarif Impor Trump Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 41 poin ke level Rp16.759 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (26/2/2026), dari posisi sebelumnya Rp16.800 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan mata uang Garuda dipicu oleh respons pasar yang menilai positif putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA AS) yang membatalkan sebagian kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Putusan tersebut langsung direspons oleh Pemerintah Indonesia.

“Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya mengkaji seluruh potensi risiko pascakeputusan tersebut, terutama terhadap implementasi perjanjian dagang Indonesia-AS,” kata Ibrahim kepada wartawan.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.800 Usai Moody's Beri Peringkat Positif Obligasi RI

Ibrahim menilai, meskipun terdapat perubahan dalam kebijakan tarif AS, perjanjian dagang Indonesia–AS tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati karena perjanjian bilateral memiliki kerangka tersendiri.

Di sisi lain, pemerintah menilai kebijakan tarif sebesar 10% yang berlaku sementara selama 150 hari relatif lebih baik dibandingkan dengan skenario sebelumnya. Selain itu, akan ada pembedaan perlakuan antara negara yang telah menandatangani perjanjian dagang dan yang belum.

“Ke depan, diplomasi dan negosiasi akan terus dilakukan secara adaptif dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ibrahim menuturkan bahwa dari sisi eksternal, penguatan rupiah juga terjadi setelah pasar mencermati dampak kebijakan tarif AS yang baru diumumkan pascaputusan Mahkamah Agung AS, yang mengubah kerangka hukum sejumlah langkah perdagangan.

“Pengenalan bea masuk global baru hingga 15% telah menambah ketidakpastian terhadap prospek perdagangan global,” katanya.

Baca Juga: APBN dan Tarif Trump Menjadi Sorotan, Begini Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (25/2)

Selain itu, pasar juga mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat, seiring pernyataan para pembuat kebijakan yang menyoroti tekanan inflasi yang masih berlanjut.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austin Goolsbee, pada Selasa menyatakan bahwa ia bersikap hati-hati untuk memangkas suku bunga tanpa bukti yang jelas bahwa inflasi secara berkelanjutan kembali menuju target 2%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: