Pasca Penandatanganan ART, Asmindo Optimis Ekspor Furnitur Indonesia Meningkat
Kredit Foto: Istimewa
Lebih lanjut, Dedy menjelaskan bahwa selama ini belanja industri furnitur Indonesia terhadap American hardwood diperkirakan mencapai sekitar US$30 juta per tahun.
Dengan adanya ART yang diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor mebel Indonesia ke pasar Amerika Serikat melalui akses perdagangan yang lebih kompetitif, kebutuhan bahan baku hardwood Amerika juga diproyeksikan meningkat secara signifikan hingga sekitar US$100 juta dalam beberapa tahun ke depan.
Peningkatan ini dinilai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan produksi furnitur ekspor Indonesia yang menggunakan kombinasi kayu lokal dan kayu keras impor premium untuk segmen pasar menengah-atas dan premium.
“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.
Melalui kemitraan ini, kedua pihak menjajaki penggunaan kayu keras Amerika pada berbagai kategori produk seperti solid wood furniture, komponen interior, serta kerajinan kayu berorientasi ekspor ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan lokal pada segmen premium global.
Baca Juga: Indonesia Resmi Teken Perjanjian Dagang Resiprokal dengan Amerika Serikat
Kerja sama ini juga mencakup pertukaran informasi spesies dan standar kualitas hardwood Amerika, dialog teknis terkait pengolahan dan keberlanjutan, serta fasilitasi jejaring bisnis antara eksportir Amerika dan produsen furnitur anggota Asmindo di Indonesia.
Tahap awal implementasi kemitraan difokuskan pada penjajakan pasar, peningkatan pemahaman teknis material, dan pembentukan fondasi rantai pasok jangka panjang yang transparan, legal, dan berkelanjutan.
Asmindo memandang langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai basis produksi furnitur dunia, tetapi juga sebagai pusat manufaktur furnitur bernilai tambah tinggi yang terintegrasi dalam jaringan pasok global.
“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” pungkas dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri