Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasca Penandatanganan ART, Asmindo Optimis Ekspor Furnitur Indonesia Meningkat

Pasca Penandatanganan ART, Asmindo Optimis Ekspor Furnitur Indonesia Meningkat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC).

Langkah ini sebagai tindak lanjut penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat pada 18 Februari 2026.

Komitmen ini tetap dijalankan meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat kemudian membatalkan kebijakan tarif resiprokal, karena kerja sama tersebut dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang bagi penguatan rantai pasok global industri furnitur dan kerajinan berbasis kayu kedua negara.

Ketua Umum Asmindo, Dedy Rochimat, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang telah berhasil merampungkan perjanjian ART dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah penting dalam membuka akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur nasional di pasar Amerika Serikat serta memperkuat hubungan dagang kedua negara.

Baca Juga: Amerika Serikat (AS) Mau Dongkrak Tarif Global Jadi 15%: Indonesia Masuk Radar

Dedy menegaskan bahwa kemitraan dengan anggota AHEC berorientasi pada peningkatan daya saing dan volume ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar global, khususnya Amerika Serikat, tanpa menggeser peran kayu domestik sebagai bahan baku utama industri nasional. 

Menurutnya, pemanfaatan American hardwood diposisikan sebagai alternatif bahan baku berkualitas yang mampu memperkaya variasi material, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi preferensi desain dan standar pasar internasional bernilai tinggi. 

Dedy berkeyakinan bahwa bahan baku ini akan dapat dimanfaatkan oleh IKM dan industri nasional untuk meningkatkan daya saing mereka.

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujarnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: