Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Prospek emiten sektor energi dinilai masih menarik di tengah upaya transisi menuju energi baru terbarukan (EBT). Sejumlah perusahaan energi berbasis batu bara bahkan mulai melakukan diversifikasi dan transformasi bisnis untuk menyesuaikan diri dengan arah kebijakan energi yang lebih ramah lingkungan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan emiten batu bara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mulai mengembangkan proyek hilirisasi batu bara. Upaya ini dilakukan untuk memperluas pemanfaatan batu bara ke sektor industri hilir sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.
Di sisi lain, emiten gas bumi juga dinilai memiliki peran penting dalam masa transisi energi. Peran ini salah satunya dijalankan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang mengelola distribusi dan infrastruktur gas nasional.
"Belum lagi misalnya ADRO, PTBA, dan PGAS kan valuasinya cukup menarik ya hemat saya demikian. Valuasi menarik, dividen yield-nya juga menarik," ujar dia kepada Warta Ekonomi, Jumat (6/3/2026).
Berbeda halnya, kata dia, dengan emiten energi terbarukan murni yang dinilai telah diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi. Misalnya saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang bergerak di sektor energi bersih, khususnya panas bumi.
"Tapi memang mereka berdua ini misalnya BRPT dan PGEO ini emiten berbasis murni EBT kan," ungkap dia.
Ekonom dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menambahkan transisi energi saat ini memang diperlukan oleh sejumlah emiten dan merupakan langkah positif. Pasalnya, prospek emiten dalam jangka panjang mendapat dorongan global untuk menghadapi perubahan iklim.
"Ya itu memang perlu, karena bagus, perlu. Di Indonesia juga kan sempat ada dorongan dukungan dengan tax hijau. Salah satunya mendorong perusahaan-perusahaan energi fosil, batu bara, supaya transform ke energi terbarukan," ujarnya secara terpisah.
Diketahui, sejumlah emiten di Indonesia yang sebelumnya agresif melakukan diversifikasi ke sektor nonbatu bara kini memasuki fase konsolidasi. Misalnya PT Indika Energy Tbk dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk yang mendorong diversifikasi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
Langkah transformasi juga terlihat pada PT TBS Energi Utama Tbk yang memperluas portofolio ke pengelolaan limbah dan energi terbarukan, serta kini berfokus pada integrasi dan penguatan kinerja operasional.
Lebih lanjut, Hans menuturkan prospek jangka panjang sektor energi tetap menarik, terutama karena meningkatnya kebutuhan listrik global. Ia menyoroti lonjakan konsumsi energi akibat perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga: Sakti Wahyu Trenggono hingga Muarar Sirait Tercatat Miliki Sejumlah Saham Emiten
Baca Juga: Saham Sektor Energi dan Emas Dinilai Jadi Benteng Saat Perang AS-Iran
Baca Juga: OJK Tetapkan Dua Tersangka, 2 Miliar Saham BEBS Senilai Rp14,5 Triliun Dibekukan
“Dunia sedang kekurangan energi. Investasi AI besar sekali, dan kebutuhan listrik AI itu bisa dua sampai lima kali lebih besar dibandingkan aktivitas pencarian biasa. Artinya, kebutuhan energi ke depan akan semakin besar,” katanya.
Meski demikian, Hans melihat kinerja sektor energi saat ini masih menunjukkan kondisi yang beragam antarperusahaan. Menurutnya, performa emiten di sektor tersebut tidak seragam karena sangat bergantung pada fundamental masing-masing perusahaan.
“Kalau saya perhatikan, sektor energi kinerjanya agak mixed. Ada yang bagus, ada yang tidak. Sangat tergantung pada perusahaannya. Tapi secara umum masih cukup baik,” ujarnya.
Sementara itu, menjelang rilis laporan keuangan 2025, Hans menilai kinerja emiten dengan portofolio hijau akan tetap bervariasi.
“Kinerjanya beragam, tapi secara umum masih baik,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: