Kredit Foto: Vale Indonesia
Penyesuaian alokasi produksi terutama akan diperhitungkan untuk mendukung kebutuhan pasokan bijih bagi proyek hilirisasi, yang tengah dikembangkan perusahaan di Pomalaa dan Bahodopi.
Sebelumnya, PT Vale juga telah memperoleh persetujuan RKAB 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dengan terbitnya izin tersebut, perusahaan kembali mempercepat aktivitas produksi dan konstruksi di wilayah operasional utama, yakni Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi, guna mengejar target produksi yang sempat tertahan.
Namun, perusahaan menilai penyesuaian alokasi produksi tetap diperlukan, untuk memastikan pasokan bahan baku bagi proyek pengolahan nikel yang tengah dibangun dapat berjalan sesuai jadwal.
“Kami tentu akan menyesuaikan dengan regulasi yang ada dan menyampaikan justifikasi bisnis yang diperlukan, agar kegiatan operasional dan proyek hilirisasi dapat berjalan sesuai rencana,” tutur Budi.
Kementerian ESDM menetapkan RKAB nikel tahun 2026 sebesar 260-270 juta ton.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: