Kebijakan WFH Disebut Tidak Efektif Diterapkan, Enggak Berpengaruh Banyak untuk Menghemat Energi
Kredit Foto: Reuters
Federasi Pengusaha Malaysia menyatakan kebijakan kerja dari rumah atau working from home (WFH) dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan konsumsi bahan bakar.
Presiden Malaysian Employers Federation (MEF), Syed Hussain Syed Husman, mengatakan perusahaan-perusahaan di Malaysia memahami alasan di balik kebijakan tersebut.
Namun, menurutnya efektivitas penerapan WFH sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing sektor industri.
Dikutip dari laporan media The Sun, Syed Hussain menyinggung langkah sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam yang mendorong pegawai sektor publik bekerja dari rumah. Sementara itu, pemerintah Malaysia juga tengah membahas isu tersebut dalam rapat kabinet khusus.
Syed Hussain menilai kebijakan yang diterapkan secara menyeluruh akan sulit dilakukan, terutama bagi industri yang bergantung pada operasional di lokasi kerja dan interaksi langsung dengan pelanggan.
Ia menjelaskan bahwa banyak sektor usaha seperti manufaktur, logistik, ritel, konstruksi, dan perhotelan membutuhkan kehadiran fisik pekerja sehingga tidak dapat mengandalkan sistem kerja jarak jauh secara luas.
Karena itu, kebijakan WFH diperkirakan hanya memberi dampak terbatas terhadap konsumsi bahan bakar secara keseluruhan.
Menurut Syed Hussain, sektor-sektor yang memungkinkan kerja jarak jauh dapat menerapkan pengaturan kerja yang lebih fleksibel secara sementara.
Opsi yang dapat dipertimbangkan antara lain model kerja hibrida, pengaturan jam kerja bergilir, atau praktik penghematan energi di kantor, selama kebijakan tersebut bersifat imbauan dan bukan kewajiban.
Ia menambahkan bahwa sektor yang sangat bergantung pada energi seperti manufaktur, penerbangan, dan industri berat memiliki ruang yang sangat terbatas untuk menerapkan WFH atau pengaturan jam kerja bergilir.
Industri-industri tersebut, kata dia, bergantung pada operasional berkelanjutan dan tenaga kerja di lokasi sehingga pengurangan perjalanan pekerja hanya akan memberikan dampak kecil dibandingkan dengan kebutuhan energi yang besar untuk proses produksi.
Selain itu, jam operasional dan jumlah pekerja di sektor tersebut biasanya ditentukan oleh permintaan pelanggan dan kebutuhan menjaga kesinambungan layanan, sehingga penyesuaian jadwal sulit dilakukan tanpa mengganggu operasional.
Syed Hussain menegaskan bahwa penerapan kerja jarak jauh atau perubahan jam kerja kemungkinan hanya memberikan dampak terbatas terhadap konsumsi energi di Malaysia. Bahkan, kebijakan tersebut berpotensi mengganggu efisiensi operasional industri maupun layanan kepada pelanggan.
Ia menyarankan agar kebijakan penghematan energi jangka pendek tetap bersifat fleksibel dan mempertimbangkan karakteristik tiap sektor.
Sementara itu, strategi jangka panjang dapat difokuskan pada peningkatan transportasi publik, penerapan teknologi hemat energi, serta dukungan bagi perusahaan dalam menghadapi kenaikan biaya energi.
Menurutnya, kalangan pengusaha pada umumnya lebih memilih pedoman yang bersifat anjuran daripada kebijakan yang wajib diterapkan, sehingga perusahaan dapat menyesuaikan langkah yang paling sesuai dengan kondisi operasional masing-masing.
Selain itu, insentif untuk penggunaan peralatan hemat energi, peningkatan konektivitas transportasi publik, serta kebijakan yang mendukung digitalisasi dinilai dapat membantu menekan konsumsi energi tanpa mengganggu kegiatan operasional perusahaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: