Kredit Foto: Ist
Serangan siber terhadap perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker, diduga menjadi aksi balasan atas konflik geopolitik di Timur Tengah, menandai meluasnya perang ke ranah digital dan menyasar korporasi global.
Kelompok peretas bernama Handala mengeklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut, dan secara terang-terangan menyebut serangan ini sebagai bentuk balasan atas serangan militer AS terhadap sekolah Minab, dan serangan siber yang sedang berlangsung ke Iran.
“Dalam operasi ini, lebih dari 200.000 sistem, server, dan perangkat seluler telah dihapus dan 50 terabyte data penting telah diekstraksi."
"Kantor-kantor Stryker di 79 negara terpaksa ditutup,” tulis kelompok Handala di akun X, dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Serangan ini menunjukkan bagaimana konflik fisik kini meluas menjadi perang siber yang menargetkan entitas sipil, termasuk perusahaan di sektor kesehatan yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Stryker merupakan perusahaan teknologi yang memproduksi perangkat dan teknologi medis untuk rumah sakit.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: