Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Serangan Siber Memanas, Hacker Iran Serang Sektor Kesehatan AS

Serangan Siber Memanas, Hacker Iran Serang Sektor Kesehatan AS Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Serangan siber terhadap perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker, diduga menjadi aksi balasan atas konflik geopolitik di Timur Tengah, menandai meluasnya perang ke ranah digital dan menyasar korporasi global.

Kelompok peretas bernama Handala mengeklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut, dan secara terang-terangan menyebut serangan ini sebagai bentuk balasan atas serangan militer AS terhadap sekolah Minab, dan serangan siber yang sedang berlangsung ke Iran. 

“Dalam operasi ini, lebih dari 200.000 sistem, server, dan perangkat seluler telah dihapus dan 50 terabyte data penting telah diekstraksi."

"Kantor-kantor Stryker di 79 negara terpaksa ditutup,” tulis kelompok Handala di akun X, dikutip pada Kamis (26/3/2026).

Serangan ini menunjukkan bagaimana konflik fisik kini meluas menjadi perang siber yang menargetkan entitas sipil, termasuk perusahaan di sektor kesehatan yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Stryker merupakan perusahaan teknologi yang memproduksi perangkat dan teknologi medis untuk rumah sakit.

Stryker memiliki operasi di Israel dan kontrak dengan militer AS untuk memasok perangkat medis kepada militer AS, yang diduga menjadi alasan perusahaan tersebut menjadi target.

Dampaknya pun meluas secara global.

Menurut laporan The Wall Street Journal, sejumlah sistem internal Stryker dilaporkan terganggu, bahkan beberapa halaman login menampilkan simbol kelompok peretas, memperkuat klaim serangan tersebut berhasil menembus sistem.

“Stryker mengalami gangguan jaringan global pada lingkungan Microsoft kami sebagai akibat dari serangan siber."

"Kami tidak memiliki indikasi adanya ransomware atau malware dan yakin insiden tersebut telah terkendali.”

“Tim kami secara aktif berupaya memulihkan sistem dan operasional secepat mungkin."

"Stryker memiliki langkah-langkah keberlangsungan bisnis yang telah diterapkan, dan kami berkomitmen untuk terus melayani pelanggan kami.” kata juru bicara Stryker, dikutip pada Kamis (26/3/2026).

Serangan ini kini tengah diselidiki oleh otoritas keamanan siber Amerika Serikat.

Pemerintah bekerja sama dengan sektor publik dan swasta untuk mengungkap lebih jauh skala dan dampak serangan tersebut.

"Kami bekerja bahu-membahu dengan mitra sektor publik dan swasta kami saat kami terus mengungkap informasi yang relevan dan memberikan bantuan teknis untuk serangan yang ditargetkan pada Stryker,” kata Pelaksana Tugas Direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS, Nick Andersen, mengutip dari TechCruch, Kamis (26/3/2026).

Handala sendiri dikenal sebagai kelompok peretas dengan motif ideologis yang kerap menargetkan infrastruktur penting dan menggunakan serangan siber sebagai alat tekanan politik.

Baca Juga: Tak Hanya Manfaat, Bisnis juga Harus Bersiap Hadapi Ancaman Siber di Era AI

Aksi mereka mencerminkan tren meningkatnya penggunaan dunia maya sebagai medan konflik baru.

Insiden ini menegaskan perang modern tidak lagi terbatas pada senjata konvensional, tetapi juga melibatkan serangan digital yang dapat mengganggu layanan vital di berbagai belahan dunia. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus