Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang AS-Iran Guncang Ekonomi Global, OECD Proyeksi Pertumbuhan Dunia Turun ke 2,9%

Perang AS-Iran Guncang Ekonomi Global, OECD Proyeksi Pertumbuhan Dunia Turun ke 2,9% Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat pada 2026 di tengah tekanan inflasi baru akibat perang AS-Iran yang memicu gangguan pasokan energi, menurut laporan terbaru Interim Economic Outlook dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

OECD memperkirakan ekonomi global tumbuh 2,9% pada 2026 dan sedikit meningkat menjadi 3,0% pada 2027, lebih rendah dibandingkan tren sebelum konflik. Perlambatan ini terjadi seiring lonjakan harga energi yang mendorong inflasi dan meningkatkan ketidakpastian pasar.

“Guncangan pasokan energi akibat konflik yang berkembang di Timur Tengah sedang menguji ketahanan ekonomi global. Kami memproyeksikan pertumbuhan global tetap kuat, tetapi lebih lambat dibandingkan sebelum konflik, dengan inflasi yang jauh lebih tinggi," kata Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menyatakan, dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (27/3/2026). 

Memasuki 2026, ekonomi global sebenarnya berada dalam kondisi relatif stabil, didukung oleh produksi berbasis teknologi, penurunan tarif efektif impor Amerika Serikat, serta momentum pertumbuhan dari 2025. Namun, konflik geopolitik mengubah arah tersebut melalui tekanan energi yang signifikan.

Secara regional, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mencapai 2,0% pada 2026 sebelum melambat menjadi 1,7% pada 2027. Kawasan euro diperkirakan tumbuh lebih rendah, yakni 0,8% pada 2026 dan 1,2% pada 2027. Sementara itu, ekonomi China diproyeksikan melambat ke 4,4% pada 2026 dan 4,3% pada 2027.

Dari sisi harga, inflasi global diperkirakan bertahan lebih tinggi lebih lama. Inflasi headline di negara-negara G20 diproyeksikan mencapai 4,0% pada 2026, sebelum turun ke 2,7% pada 2027. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga energi yang merambat ke sektor lain, termasuk pangan.

OECD menyoroti bahwa kenaikan harga energi dan pupuk berpotensi mendorong kenaikan harga makanan, terutama yang berdampak pada kelompok rentan. Selain itu, biaya energi yang tinggi juga meningkatkan beban negara-negara Eropa dalam pengisian cadangan gas tahunan.

Risiko ke depan dinilai masih tinggi. OECD menegaskan proyeksi dasar sangat bergantung pada asumsi bahwa gangguan pasokan energi hanya bersifat sementara. Jika konflik berkepanjangan menyebabkan penutupan fasilitas minyak dan gas atau mengganggu jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz, maka tekanan terhadap inflasi dan pertumbuhan akan semakin besar.

Selain itu, pasar keuangan berpotensi mengalami volatilitas tambahan, sementara kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang dapat memperbesar risiko fiskal di berbagai negara.

Baca Juga: PBB Sebut Konflik AS-Iran Sudah Kelewat Batas, Guncang Ekonomi Global

Baca Juga: Bank Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat Jadi 3,1 Persen

Baca Juga: Amerika Serikat Desak Korea Selatan Amankan Selat Hormuz: Demi Stabilitas Ekonomi Global

Dalam menghadapi kondisi tersebut, OECD menekankan pentingnya respons kebijakan yang terukur. Bank sentral diminta tetap waspada menjaga ekspektasi inflasi, sementara pemerintah perlu memastikan keberlanjutan fiskal di tengah ruang kebijakan yang terbatas.

“Setiap kebijakan untuk meredam dampak kenaikan harga energi harus ditargetkan kepada kelompok yang paling membutuhkan, bersifat sementara, dan tetap menjaga insentif untuk penghematan energi," tegasnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri