Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Klaim Amerika Serikat Dipatahkan Iran, Gencatan Senjata Kian Jauh dari Harapan

Klaim Amerika Serikat Dipatahkan Iran, Gencatan Senjata Kian Jauh dari Harapan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali diselimuti polemik setelah klaim Presiden AS Donald Trump soal permintaan gencatan serangan dari Teheran dibantah mediator. Situasi ini mempertegas bahwa negosiasi kedua negara masih jauh dari kata solid.

Melansir sejumlah laporan media internasional, pernyataan Trump yang menyebut Iran meminta jeda serangan terhadap sektor energi tidak sejalan dengan fakta di lapangan. Mediator menegaskan tidak ada permintaan resmi dari Iran terkait penghentian sementara tersebut.

Ketegangan ini muncul di tengah klaim Washington yang menyebut adanya kemajuan dalam jalur diplomasi. Namun di sisi lain, Teheran justru mempertanyakan narasi yang dibangun Amerika Serikat dan menilai pendekatan tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Bahkan, Iran secara terbuka meragukan proses negosiasi yang diklaim sedang berlangsung. Sejumlah pejabat Iran menyebut komunikasi yang terjadi masih sebatas pesan tidak langsung melalui mediator, bukan pembicaraan formal yang mengarah pada kesepakatan konkret.

Dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat diketahui telah mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin kepada Iran. Proposal ini mencakup tuntutan besar seperti pembatasan program nuklir, pengendalian rudal balistik, hingga pengurangan pengaruh Iran di kawasan.

Namun, respons dari Teheran jauh dari kata positif. Iran menilai proposal tersebut terlalu berat dan cenderung menguntungkan kepentingan Washington, bahkan disebut sebagai maksimalis dan tidak masuk akal.

Tak hanya itu, menurut laporan Al Jazeera, Iran juga menolak menjadikan program rudal sebagai fokus utama negosiasi. Pemerintah Iran bersikeras bahwa hak pengayaan uranium tetap menjadi bagian dari kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kedua pihak masih berdiri pada posisi yang bertolak belakang. Amerika Serikat mendorong pembatasan luas, sementara Iran hanya ingin pembahasan difokuskan pada isu nuklir tanpa tekanan tambahan.

Situasi deadlock ini semakin diperparah oleh perbedaan persepsi terkait jalannya diplomasi. Sementara Trump mengklaim pembicaraan berjalan signifikan, Iran justru menilai narasi tersebut sebagai upaya membangun tekanan politik.

Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa Iran bahkan mencurigai pendekatan diplomasi AS sebagai strategi yang tidak sepenuhnya tulus. Kecurigaan ini muncul karena pengalaman negosiasi sebelumnya yang dianggap tidak memberikan hasil nyata bagi Teheran.

Di tengah kebuntuan ini, peluang tercapainya gencatan senjata dinilai semakin menipis. Mediator menyebut kedua pihak masih mempertahankan tuntutan yang sulit dipertemukan dalam satu kesepakatan.

Baca Juga: Wapres AS Vance Disebut Jadi Kunci Washington Akhiri Konflik Iran

Meski demikian, sinyal negosiasi belum sepenuhnya tertutup. Iran disebut masih membuka ruang diskusi terbatas, namun keputusan akhir tetap berada di tingkat pimpinan tertinggi negara.

Konflik yang telah berlangsung sejak awal 2026 ini juga turut memperumit jalur diplomasi. Serangan militer yang terus berlanjut membuat kepercayaan antar pihak semakin menipis dan memperbesar jarak menuju kesepakatan damai

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Aldi Ginastiar