Jelang Akhir Maret, Begini Proyeksi Harga Bitcoin Hari Ini (30/3)
Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Harga bitcoin kembali melemah menjelang akhir dari Maret 2026. Aset kripto unggulan tersebut mengalami tekanan akibat masih panasnya konflik dari Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin baru-baru ini turun hingga menyentuh level sekitar US$65.000 di Senin (30/3). Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan pasar global yang dipengaruhi faktor geopolitik dan kebijakan moneter.
Baca Juga: Bhutan Jual Ratusan Bitcoin Lagi, Cadangan Turun 66%
Analis Bitrue, Andri Fauzan Adziima mengatakan bahwa penurunan harga bitcoin kali ini dipicu oleh kondisi risk-off dalam pasar global akibat konflik di Timur Tengah.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian baru-baru ini menegaskan pentingnya membangun kepercayaan sebagai dasar untuk membuka jalur negosiasi dalam konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah.
Teheran dengan ini terbuka dengan jalur diplomasi. Namun dengan hal tersebut, mereka juga telah memberikan sinyal bahwa pihaknya belum melupakan bagaimana serangan terjadi tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Washington.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di sisi lain menyatakan bahwa jika proposal damai yang dikirimkannya tidak diterima, maka pihaknya akan meluncurkan serangan yang lebih besar ke Teheran. Hal tersebut menambah ketidakpastian akibat panasnya geopolitik dari Timur Tengah.
Perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama. Situasi tersebut membuat investor cenderung menghindari aset berisiko seperti kripto, termasuk bitcoin.
Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kebijakan yang dilakukan oleh Federal Reserve (The Fed). Bank sentral tersebut baru-baru ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi.
Keputusan The Fed membuat likuiditas dalam pasar tetap ketat, sehingga membatasi potensi kenaikan harga aset berisiko. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah juga terus meningkat selama empat pekan berturut-turut, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga yang tetap tinggi.
Indeks dolar yang menguat juga menjadi faktor tambahan yang menekan harga bitcoin. Penguatan dolar biasanya berdampak negatif terhadap aset berisiko, karena investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Adziima memperkirakan pergerakan harga bitcoin dalam waktu dekat akan cenderung sideways dengan volatilitas tinggi. Namun, peluang reli jangka menengah masih terbuka jika tekanan geopolitik dan kondisi makro mulai mereda.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal untuk investor lokal agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Fluktuasi harga yang tinggi membuka peluang, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian dalam jangka pendek.
Baca Juga: ETF Bitcoin Murah Akan Diluncurkan Morgan Stanley, Fee Cuma 0,14%!
Penurunan harga bitcoin baru-baru ini mencerminkan kuatnya pengaruh faktor global terhadap pasar kripto. Dengan kombinasi tekanan geopolitik, suku bunga tinggi, dan penguatan dolar, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: