Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Dinilai Unggul Secara Strategi Perang, AS Didesak Cari Jalan Keluar

Iran Dinilai Unggul Secara Strategi Perang, AS Didesak Cari Jalan Keluar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase baru setelah sebulan operasi militer berlangsung tanpa hasil yang menentukan. Sejumlah analis kini mulai menilai Iran justru memegang keunggulan strategis dalam konflik yang terus memanas ini.

Operasi militer yang dimulai pada 28 Februari lalu belum mampu meredam eskalasi di kawasan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas strategi yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Analis politik Amerika Garland Nixon menilai Iran tampil mengejutkan dalam memanfaatkan kapasitas militernya.

“Menurut saya, Iran telah membuktikan diri sebagai kekuatan yang cakap secara militer. Mereka terbukti cukup mampu dalam memanfaatkan kekuatan yang mereka miliki secara maksimal. Memang, secara keseluruhan Iran tidak memiliki kekuatan dan daya tembak sebesar Amerika Serikat, namun mereka mampu menggunakan kekuatan yang ada secara strategis dengan cara yang kemungkinan besar memberikan keunggulan bagi mereka,” ujarnya kepada TASS.

“Mereka terbukti sangat mahir dalam strategi militer.” Kata Nixon menambahkan.

Pandangan serupa disampaikan analis militer senior dari Stimson Center, Kelly Grieco, yang menilai Iran kini berada pada posisi tawar yang lebih kuat.

“Iran benar-benar memiliki keunggulan karena merekalah yang menutup selat, dan tidak ada opsi militer yang benar-benar baik,” ujarnya.

Ia menilai Amerika Serikat saat ini justru tengah mencari jalan keluar dari konflik yang semakin kompleks. Sementara itu, Iran terus mempertahankan tekanan melalui pengendalian Selat Hormuz sebagai kartu strategis utama.

Analisis dari Stimson Center menyebut strategi serangan drone dan rudal Iran bukanlah tindakan acak. Pendekatan tersebut dinilai sebagai strategi terukur untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi operasi militer AS dan Israel.

Nixon juga menyoroti pentingnya perang narasi dalam konflik ini.

“Selain itu, tampaknya Iran sengaja memastikan adanya aspek moral dalam konflik ini. Dari sudut pandang hubungan publik, mereka menyerang Amerika Serikat dan koalisinya berdasarkan dokumen Epstein dan hal-hal lain termasuk serangan terhadap sekolah perempuan."

"Jadi menurut saya, dari perspektif hubungan publik, Iran juga cukup berhasil membangun citra sebagai pihak yang lebih bermoral dalam konflik ini, sementara AS dan koalisi mitranya dicitrakan sebagai pihak yang tidak bermoral,” katanya.

Salah satu insiden yang memperkuat narasi tersebut adalah serangan rudal ke sekolah perempuan di Minab, dekat Bandar Abbas. Insiden itu dilaporkan menewaskan sekitar 170 orang dan menjadi titik balik opini publik internasional terhadap koalisi AS-Israel.

Analis dari Al Jazeera Centre for Studies menilai konflik ini lebih ditentukan oleh daya tahan dibanding dominasi militer semata. Iran dinilai menjalankan strategi gerus bertahap yang memanfaatkan tekanan energi dan dampak regional secara berkelanjutan.

Selat Hormuz kini menjadi pusat tekanan utama dalam konflik tersebut. Jalur ini merupakan lintasan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar energi global.

Data pelacakan global menunjukkan penurunan signifikan lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk Persia. Iran juga menegaskan bahwa jalur tersebut tidak lagi aman untuk dilintasi dalam kondisi saat ini.

Baca Juga: Operasi Darat hingga Selat Hormuz, Pakistan Akan Sulit Damaikan Iran dan Amerika Serikat

Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal risiko besar terhadap pasar energi dan stabilitas global. Lonjakan harga minyak berpotensi terjadi jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut dalam waktu lama.

Untuk Indonesia, dampaknya dapat terasa melalui tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan. Sebagai negara net importir energi, kenaikan harga minyak berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan.

Di sisi lain, saham sektor energi berpotensi mendapatkan sentimen positif dalam jangka pendek. Namun, meningkatnya ketidakpastian global juga dapat memicu tekanan pada pasar saham secara keseluruhan, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: