Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Operasi Darat hingga Selat Hormuz, Pakistan Akan Sulit Damaikan Iran dan Amerika Serikat

Operasi Darat hingga Selat Hormuz, Pakistan Akan Sulit Damaikan Iran dan Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pakistan menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai guna mengakhiri konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat. Namun hal tersebut akan diikuti oleh tugas berat mengingat tuntutan yang dihadirkan oleh Washington.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan pembicaraan dalam beberapa hari ke depan untuk mencapai penyelesaian yang komprehensif dan berkelanjutan antara berbagai pihak dari Timur Tengah.

Baca Juga: Diplomasi Mandek, Amerika Serikat Bakal Kerahkan Ribuan Tentara hingga Pasukan Elite di Iran

Pakistan juga membuka kemungkinan menjadi lokasi negosiasi langsung untuk Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, belum ada kepastian apakah kedua negara akan hadir ke Islamabad.

Terbaru, diskusi awal terkait perdamaian regional sendiri telahmelibatkan Arab Saudi, Turki, dan Mesir. Dalam hal tersebut, fokus utama pembahasan adalah membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi sorotan karena ia merupakan jalur sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas dunia, namun kini terganggu setelah adanya perang dari Israel, Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah negara disebut mengusulkan pembentukan konsorsium untuk mengelola aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Mesir dan Arab Saudi dilaporkan menjadi penggagas utama. Pakistan dilibatkan sebagai bagian dari mekanisme pengawasan dan stabilisasi jalur energi global. Usulan ini juga disebut telah dibahas dengan pihak dari Washington dan Iran.

Namun, upaya diplomasi ini diwarnai ketegangan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh sinyal negosiasi ini hanyalah tipu daya dari Amerika Serikat. Ia menyoroti adanya pengerahan pasukan tambahan yang disinyalir merupakan persiapan untuk melakukan serangan darat ke Teheran.

Qalibaf memberikan sinyal bahwa pihaknya tidak lupa dengan bagaimana perang mencetus tidak lama setelah putaran negosiasi terkait pengembangan nuklirnya. Ia sendiri menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerah terhadap tekanan militer dari Washington.

Amerika Serikat diketahui menjadi sorotan adalah kabar bahwa mereka tengah mempertimbangkan pengiriman sekitar empat ribu tentara dari 82nd Airborne Division. Pasukan elite dengan respons cepat tersebut saat ini berbasis di Fort Bragg, North Carolina.

Washington juga dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman tentara hingga 10.000. Pasukan tambahan ini kemungkinan akan mencakup unit infanteri, kendaraan lapis baja hingga dukungan tempur lainnya. 

Rencana pasukan tambahan in isendiri masih dalam tahap pembahasan internal dan belum menjadi keputusan final. Namun, Washington dengan hal tersebut menunjukkan bahwa mereka terus meningkatkan kesiapan militernya dalam menghadapi Iran.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melalui proposal damainya menegaskan bahwa negara tersebut harus menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Trump juga menyoroti blokade yang dilakukan negara tersebut terhadap Selat Hormuz. Trump dilaporkan tak ingin hal itu terjadi kembali dan oleh karenanya, ia juga meminta kontrol atas Selat Hormuz.

Ia juga memperingatkan bahwa jika proposal tersebut tidak diterima, maka pihaknya akan memberikan tekanan militer yang lebih berat ke Iran.

Adapun Israel di sisi lain terus melancarkan ratusan serangan udara ke berbagai wilayah dari Iran. Teheran juga terus memberikan serangan balasan, salah satunya ke Beer Sheva. Kelompok Houthi di Yaman juga mulai terlibat, meningkatkan risiko gangguan di jalur strategis lain seperti Bab el-Mandeb.

Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran global, terutama terkait gangguan pasokan energi dunia hingga ancaman terhadap jalur perdagangan internasional. Hal tersebut dapat menjadi beban ekonomi tambahan untuk dunia.

Baca Juga: FBI Hingga Lockheed Martin, Hacker Iran Bocorkan Data Elite Amerika Serikat

Inisiatif Pasikan membuka jalur diplomasi telah membuka peluang baru bagi penyelesaian konflik dari Iran, Israel dan Amerika Serikat. Namun, dengan perbedaan kepentingan yang tajam dan situasi militer yang terus memanas, proses menuju perdamaian diperkirakan akan penuh tantangan dan belum tentu cepat tercapai.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar