Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bank Neo Commerce Cetak Laba Rp565 Miliar 2025, Naik 2.745%

Bank Neo Commerce Cetak Laba Rp565 Miliar 2025, Naik 2.745% Kredit Foto: Bank Neo Commerce
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) mencatat lonjakan kinerja pada 2025 dengan membukukan laba bersih Rp565,69 miliar, naik signifikan 2.745% dibandingkan Rp19,88 miliar pada 2024, seiring penguatan fundamental bisnis dan efisiensi operasional.

Direktur Utama Eri Budiono menyatakan capaian tersebut didorong strategi transformasi bisnis yang menitikberatkan pada pertumbuhan berkualitas dan pengelolaan risiko yang disiplin.

“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce dalam memperkuat fundamental bisnis dan memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan yang kami lakukan tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki,” jelasnya, dalanm keterangan resmi, Jakarta, Selasa (31/3/2026). 

Kinerja tersebut tercermin dari perbaikan profitabilitas dan efisiensi. Rasio BOPO turun menjadi 84,18% dari 99,34% pada tahun sebelumnya, sementara cost to income ratio (CIR) berada di level 31,33%. Net interest margin (NIM) tercatat 14,39%. Selain itu, return on assets (ROA) meningkat menjadi 3,11% dari 0,10%, dan return on equity (ROE) naik menjadi 15,13% dari 0,59%.

Dari sisi neraca, total aset PT Bank Neo Commerce Tbk mencapai Rp18,97 triliun atau tumbuh 8,99% secara tahunan. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,37% menjadi Rp14,03 triliun, didorong pertumbuhan tabungan menjadi Rp3,50 triliun dan stabilnya deposito di Rp9,86 triliun.

Perseroan juga menjaga kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) net sebesar 0,89%. Likuiditas tetap kuat dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 51,21% dan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 614,93%.

Dari sisi permodalan, modal inti meningkat menjadi Rp4,03 triliun dari Rp3,32 triliun pada tahun sebelumnya. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat 49,07%, naik dari 35,30%, memberikan ruang ekspansi bisnis yang lebih luas.

Perseroan juga memperkuat layanan digital melalui pengembangan transaksi harian, pembiayaan digital bagi individu dan UMKM, serta solusi pengelolaan keuangan berbasis aplikasi. Seiring penguatan tersebut, saham BBYB resmi masuk dalam indeks Economic 30 yang berlaku mulai 2 Maret 2026.

Baca Juga: Bank Neo Commerce Tegaskan Operasional Tetap Berjalan Normal Usai OJK Cabut Izin Referal Saham

Baca Juga: Bank Neo Commerce Kena Sanksi OJK, Ini Pelanggarannya

Ke depan, perseroan akan fokus pada penyaluran kredit berkualitas dan pengembangan ekosistem digital. Salah satu inisiatif yang disiapkan adalah peluncuran layanan buy now pay later (BNPL) pada pertengahan 2026.

“Memasuki tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas serta mengoptimalkan potensi bisnis melalui penguatan produk dan layanan perbankan digital untuk meningkatkan potensi fee based income. Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026,” ujar Eri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement