Tanpa Kesepakatan, Amerika Serikat Akan Segera Akhiri Operasinya di Iran
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya tidak perlu menunggu kesepakatan damai untuk mengakhiri perang dengan Iran. Washington menegaskan bahwa konflik akan segera berakhir di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya berpotensi mengakhiri serangan militer terhadap Iran. ia mengatakan bahwa perang akan berakhir dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan.
Baca Juga: Iran Ragukan Diplomasi Amerika Serikat: Kami Telah Diserang Selama Negosiasi
"Kami akan segera pergi, dalam dua minggu, mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu," kata Trump.
Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang telah memasuki minggu kelima dan menimbulkan sedikit harapan akan berakhir perang dari Iran dan Amerika Serikat. Namun Trump juga memberikan sedikit kekhawatiran baru dengan menyatakan bahwa perangnya tidak harus berakhir melalui upaya diplomasi dengan Teheran.
Trump menegaskan bahwa penghentian operasi militer tidak harus bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan Iran. Ia menyebut bahwa pihaknya dapat menarik diri dalam waktu dekat, bahkan tanpa adanya perjanjian formal.
"Iran tidak harus membuat kesepakatan, tidak, mereka tidak harus membuat kesepakatan dengan saya," katanya.
Pernyataan ini berbeda dengan sikap sebelumnya yang menekankan pentingnya adanya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Washington mengancam akan meningkatkan operasi militer jika negara terkait tidak menyetujui sejumlah syarat, termasuk menghentikan pengayaan uranium, tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump juga sebelumnya dilaporkan mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militernya meskipun jalur vital energi global masih belum sepenuhnya dibuka oleh Trump.
Menurut laporan, opsi tersebut membuka kemungkinan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran akan ditangani pada tahap berikutnya, terpisah dari penghentian konflik militer dari Amerika Serikat dan Iran.
Namun Trump sendiri beberapa waktu yang lalu mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.
Komentar Trump menyoroti inkonsistensi dalam pernyataan pemerintah terkait strategi mengakhiri konflik. Ia membuka jalur diplomasi namun di sisi lain juga terus mengirimkan tekanan militer, termasuk dengan pengerahan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Adapun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat. Namun hal tersebut tidak bisa disebut sebagai negosiasi resmi.
Menurutnya, pesan yang disampaikan melalui perantara lebih berupa pertukaran pandangan dan ancaman, bukan dialog diplomatik formal. Ia sendiri mendapatkan pesar yang diteruskan dari Utusan Khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff.
Serupa, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian membuka peluang berakhirnya perang dalam percakapannya dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa. Ia menyatakan bahwa pihaknya membuka upaya negosiasi damai dengan Israel dan Amerika Serikat.
Namun dirinya menekankan bahwa pihaknya perlu jaminan keamanan hingga komitmen bahwa serangan tidak akan dilakukan kembali oleh Tel Aviv dan Washington. Hal ini mengingat bahwa pihaknya telah diserang saat melakukan negosiasi dengan kedua pihak sebelumnya di Februari 2026.
Baca Juga: Sinyal Damai Iran dan Amerika Serikat, Begini Harga Bitcoin Hari Ini (1/4)
"Kita memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang dengan mematuhi persyaratannya, khususnya jaminan untuk mencegah terulangnya agresi," kata Pezeshkian.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement