Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Ragukan Diplomasi Amerika Serikat: Kami Telah Diserang Selama Negosiasi

Iran Ragukan Diplomasi Amerika Serikat: Kami Telah Diserang Selama Negosiasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran dikabarkan memberikan lampu hijau terkait dengan upaya negosiasi damai untuk mengakhiri perangnya dengan Amerika Serikat. Namun pihaknya menegaskan belum bisa mempercayai sepenuhnya upaya dari Washington.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian membuka peluang berakhirnya perang dalam percakapannya dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa. Ia menyatakan bahwa pihaknya membuka upaya negosiasi damai dengan Israel dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Iran dan Sekutu Isyaratkan 'Kejutan' Baru untuk Israel dan Amerika Serikat

Namun dirinya menekankan bahwa pihaknya perlu jaminan keamanan hingga komitmen bahwa serangan tidak akan dilakukan kembali oleh Tel Aviv dan Washington. Hal ini mengingat bahwa pihaknya telah diserang saat melakukan negosiasi dengan kedua pihak sebelumnya di Februari 2026.

"Kita memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang dengan mematuhi persyaratannya, khususnya jaminan untuk mencegah terulangnya agresi," kata Pezeshkian.

Iran sebelumnya juga menyoroti ketidakkonsistenan sikap dari Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan upaya membahas negosiasi damai sambil mempersiapkan invasi darat yang dilakukan oleh Washington.

Teheran menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tekanan atau “penghinaan” dari pihak mana pun. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya masih ingat bagaimana negaranya diserang tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Amerika Serikat.

"Situasi di Selat Hormuz adalah akibat dari tindakan permusuhan dari Amerika-Israel. Iran diserang dua kali selama negosiasi, membuktikan bahwa mereka tidak percaya pada diplomasi," tegas Pezeshkian.

Adapun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya dilaporkan mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militernya meskipun jalur vital energi global masih belum sepenuhnya dibuka oleh Trump.

Menurut laporan, opsi tersebut membuka kemungkinan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran akan ditangani pada tahap berikutnya, terpisah dari penghentian konflik militer dari Amerika Serikat dan Iran.

Namun Trump sendiri beberapa waktu yang lalu mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

Amerika Serikat juga mulai mengerahkan ribuan pasukan tambahan, termasuk 82nd Airborne Division. Ia merupakan pasukan elite yang dapat membuka berbagai opsi dalam perang untuk Trump.

Baca Juga: Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat

Pasukan yang dikerahkan mencakup elemen markas, unit logistik serta satu brigade tempur lengkap. ia juga akan melengkapi ribuan personal marinir yang telah dikirimkan oleh Washington. Kini Timur Tengah memiliki ribuan pasukan dari angkatan laut, pasukan khusus dan unit lainnya dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement