Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menhan Amerika Serikat: Beberapa Hari ke Depan Akan Jadi Penentu Operasi di Iran

Menhan Amerika Serikat: Beberapa Hari ke Depan Akan Jadi Penentu Operasi di Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat mengatakan bahwa sepekan ke depan akan menjadi penentu arah perangnya dengan Iran. Hal ini terkait upaya diplomasi yang belum menunjukkan hasil dari Washington dan Teheran.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menyatakan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi momen krusial dalam konflik melawan Iran. Ia memperingatkan bahwa perang dapat semakin intensif jika tidak ada kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Baca Juga: Tanpa Kesepakatan, Amerika Serikat Akan Segera Akhiri Operasinya di Iran

"Kita memiliki semakin banyak pilihan, dan mereka memiliki lebih sedikit. Hanya dalam satu bulan kita menetapkan persyaratannya, hari-hari mendatang akan menentukan," kata Hegseth.

Hegseth menegaskan bahwa posisi militer negaranya semakin kuat, sementara opsi yang dimiliki musuh semakin terbatas. Menurutnya, dalam waktu satu bulan sejak konflik dimulai, pihaknya telah berhasil menetapkan arah permainan dalam medan perang di Iran.

Ia juga menyebut bahwa pihaknya sudah bisa dipastikan akan bisa keluar sebagai pemenang dalam konfliknya dari Iran. Teheran menurutnya hampir tidak memiliki kemampuan militer untuk membalikkan situasi saat ini.

"Iran tahu itu, dan hampir tidak ada yang bisa mereka lakukan secara militer untuk mencegahnya," kata Hegseth.

Amerika Serikat sebelumnya  menyatakan bahwa pembicaraan negosiasi damai masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif dengan Iran. Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa kesepakatan tidak akan tercapai oleh Washington dan Teheran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut tetap membuka peluang kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, ia juga menegaskan kesiapan untuk melanjutkan operasi militer jika tuntutannya tidak dipenuhi oleh Iran.

Trump mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

Adapun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat. Namun hal tersebut tidak bisa disebut sebagai negosiasi resmi.

Menurutnya, pesan yang disampaikan melalui perantara lebih berupa pertukaran pandangan dan ancaman, bukan dialog diplomatik formal. Ia sendiri mendapatkan pesar yang diteruskan dari Utusan Khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff.

Sementara Presiden Iran, Masoud Pezeshkian membuka peluang berakhirnya perang dalam percakapannya dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa. Ia menyatakan bahwa pihaknya membuka upaya negosiasi damai dengan Israel dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Iran Ragukan Diplomasi Amerika Serikat: Kami Telah Diserang Selama Negosiasi

Namun dirinya menekankan bahwa pihaknya perlu jaminan keamanan hingga komitmen bahwa serangan tidak akan dilakukan kembali oleh Tel Aviv dan Washington. Hal ini mengingat bahwa pihaknya telah diserang saat melakukan negosiasi dengan kedua pihak sebelumnya di Februari 2026.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement