Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mark Rutte Tiba-tiba Mau ke Amerika Serikat, Gegara Ancaman Trump ke NATO?

Mark Rutte Tiba-tiba Mau ke Amerika Serikat, Gegara Ancaman Trump ke NATO? Kredit Foto: Reuters/Ints Kalnins
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization (NATO), Mark Rutte dijadwalkan mengunjungi Amerika Serikat. Kunjungan tersebut terjadi saat meningkatnya ketegangan antara sekutu dengan Washington.

Juru Bicara North Atlantic Treaty Organization (NATO) Allison Hart menyatakan bahwa kunjungan tersebut bukan reaksi mendadak, melainkan agenda yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Namun, waktunya bertepatan dengan kritik tajam dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baca Juga: Prancis Balas Ancaman Trump: NATO Hadir Bukan untuk Perang di Iran

"Saya dapat mengkonfirmasi bahwa sekjen akan segera berada di Washington DC. Hal itu dilakukan sebagai kunjungan yang telah direncanakan sejak lama," katanya.

Hingga kini, belum ada rincian resmi terkait agenda pertemuan antara Rutte dan Amerika Serikat Namun, pertemuan ini diperkirakan akan membahas peran aliansi hingga masa depan dari NATO. Hal ini mengingat ancaman keluarnya pihak dari Amerika Serikat.

Sebelumnya, Trump menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menarik negaranya keluar dari NATO. Hal ini usai negara anggota aliansi tersebut menolak memberikan dukungan militer, termasuk tidak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

"Saya akan membahas rasa jijik saya terhadap North Atlantic Treaty Orgnization (NATO)," ungkap Trump.

Atas hal tersebut, ia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk keluar dari NATO. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaannya terhadap sekutu yang dinilai tidak memberikan dukungan saat pihaknya membutuhkan bantuan mereka di Iran.

"Oh, tentu saja tanpa ragu. Bukankah Anda akan melakukan itu jika Anda berada di posisi saya?" kata Trump.

NATO diketahui didirikan pada 1949. Ia  selama ini menjadi pilar utama keamanan dengan prinsip pertahanan kolektif yang dikenal sebagai Article 5. Artikel tersebut membuat serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Namun, Amerika Serikat memicu kekhawatiran dengan kengganannya untuk berkomitmen mematuhi aturan terkait, apalagi dengan opsi untuk keluar dari NATO. Para analis menilai hal ini berpotensi memancing agresi dari Rusia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth juga menolak menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap prinsip pertahanan kolektif dari NATO. Ia menyatakan keputusan tersebut berada di Trump.

Baca Juga: Tiga Raksasa Dunia Bentuk Koalisi Hadapi Dampak Konflik Iran dan Amerika Serikat

Hegseth sendiri mengungkapkan kekecewaan terhadap sejumlah negara dalam alinasi seperti Prancis, Italia hingga Spanyol. Hal ini karena mereka tidak memberikan dukungan penuh terhadapnya dalam perang dari Iran dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement