Kemenperin Pacu Transformasi Industri Lewat Inkubator Bisnis dan Wirausaha Baru
Kredit Foto: Ayu Rachmaningtyas Tuti Dewanto
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam menghadirkan wirausaha baru yang mandiri dan berdaya saing. Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah melalui program Inkubator Bisnis Balai Diklat Industri (BDI), yang secara konsisten mendampingi para wirausaha baru di berbagai sektor industri setiap tahunnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa wirausaha baru merupakan salah satu sumber daya manusia (SDM) industri yang perlu terus dikembangkan.
"Melalui program inkubator bisnis, mereka diharapkan menjadi tunas-tunas wirausaha yang mampu berkontribusi dalam memperkuat ekosistem industri nasional," imbuhnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Kamis (2/4).
Program inkubator bisnis tersebut diselenggarakan oleh tujuh BDI Kemenperin, yaitu BDI Medan, BDI Padang, BDI Jakarta, BDI Yogyakarta, BDI Surabaya, BDI Denpasar, dan BDI Makassar. Meski berlokasi di tujuh kota tersebut, program ini terbuka bagi wirausaha baru dari berbagai daerah di Indonesia.
“Pada tahun 2025, program inkubator bisnis yang diselenggarakan oleh tujuh BDI Kemenperin telah membina 37 tenant atau wirausaha baru terpilih dengan total 212 tenaga kerja. Para tenant tersebut bergerak di berbagai sektor, antara lain kriya, fesyen, makanan dan minuman, serta sektor manufaktur lainnya,” ujar Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi.
Program inkubator bisnis BDI bertujuan untuk mempercepat pengembangan tenant melalui berbagai bentuk dukungan, mulai dari mentoring, pelatihan, fasilitasi legalitas usaha, akses teknologi, hingga akses pembiayaan.
“Kegiatan ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi. Tahapan tersebut mencakup proses seleksi, pendampingan dan pengembangan usaha, hingga pemantauan serta fasilitasi permodalan,” jelas Doddy.
Salah satu tenant terpilih adalah Zeea yang bergerak di bidang fesyen. Wirausaha ini menghadirkan produk muslimah sportswear sebagai solusi bagi perempuan muslim yang membutuhkan pakaian olahraga yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan. Zeea lahir dari keterbatasan pilihan produk olahraga khusus muslimah di pasar.
Sebagai tenant BDI Jakarta tahun 2025, Zeea mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing. Hasilnya, Zeea berhasil meluncurkan seri Bold Revival melalui kolaborasi dengan publik figur Dara Arafah.
Selain itu, terdapat Zeta Teknik yang mengembangkan inovasi mesin pencuci helm otomatis karya anak bangsa. Produk yang diberi nama Cleanzer ini dilengkapi fitur sistem pembersih otomatis, pembayaran digital, hingga konektivitas Internet of Things (IoT). Zeta Teknik menjadi salah satu peserta program Inkubator Bisnis BDI Surabaya pada tahun lalu.
Baca Juga: Respons Cepat Presiden Prabowo Tingkatkan Kepercayaan Investor Jepang dan Korea
Di sektor makanan dan minuman, BDI Makassar membina Sago One sebagai salah satu tenant tahun 2025. Wirausaha ini memproduksi tepung sagu sebagai alternatif pangan lokal bernilai gizi tinggi, sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam di Sulawesi Selatan yang merupakan daerah sebaran alami pohon sagu.
“Kreativitas dan keragaman produk yang dihasilkan oleh para tenant Inkubator Bisnis menunjukkan bahwa program ini mampu meningkatkan kapasitas SDM industri sekaligus mendorong tumbuhnya wirausaha baru yang inovatif dan kompetitif,” pungkas Doddy.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement