Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Tembus Rp17.100, Beban Subsidi Energi Kian Berat

Rupiah Tembus Rp17.100, Beban Subsidi Energi Kian Berat Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.105 pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Garuda melemah 75 poin dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.035 per USD.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dari dalam negeri ditengarai oleh skema subsidi energi yang belum tepat sasaran di tengah lonjakan harga minyak global. Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih dapat diakses tanpa pembatasan yang jelas.

"Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan. Kelompok seperti nelayan yang berhak justru berpotensi kekurangan pasokan," kata dia kepada wartawan.

Sementara itu, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi.

"Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Kenaikan hingga sekitar US$113 per barel memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara," kata dia.

Menurut Ibrahim, ke depan fokus sasaran subsidi mesti dipertajam. Ketika harga minyak melonjak ke US$113 per barel, atau lebih dari 60% di atas asumsi APBN, tekanan fiskal langsung terasa melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi.

Sementara dari sisi eksternal, pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh investor yang bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak," kata dia.

Baca Juga: Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, IHSG Diprediksi Terjun Bebas

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.002, Defisit APBN Karena Pembengkakan Subsidi BBM Picu Kekhawatiran

Baca Juga: OJK Catat Realisasi Kredit Program Strategis Pemerintah Capai Triliunan Rupiah

Menurut Ibrahim, upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi.

"Iran menolak proposal tersebut, dan malah menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan," ungkap dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement