Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengamat sebut AS Bukan Menyetujui Gencatan Senjata, Makanya Iran Bilang 'Tangan Kami Tetap di Pelatuk'

Pengamat sebut AS Bukan Menyetujui Gencatan Senjata, Makanya Iran Bilang 'Tangan Kami Tetap di Pelatuk' Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjajaran Dina Sulaeman angkat bicara soal langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mau sementara untuk menghentikan serangan terhadap Iran selama 2 minggu.

Dina yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran itu mengambarkan situasi kebatinan dari Trump saat akhirnya mau meneken perintah menghentikan sementara serangan ke Iran, padahal satu-dua hari sebelumnya Trump masih marah-marah dengan Teheran dengan mengungkapkan pernyataan kasar.

Baca Juga: Ancam Hancurkan Iran, Trump Dikecam Dunia hingga Internal Amerika Serikat

Dan berikut catatan dari Dina Sulaeman atas kabar baik dari Timur Tengah yang sudah berlangsung satu bulan lebih dan efeknya dirasakan hampir seluruh dunia:

"Setelah mengancam keras, akhirnya 90 menit sebelum "janji" untuk menyerang Iran habis-habisan, Trump menyatakan membatalkan serangan & bersedia merundingkan 10 proposal Iran. Fase ini menunjukkan bahwa periode sebelum ini adalah kuat-kuatan mental, saling mengacungkan pelatuk. Trump berharap Iran yang melepas pistol, lalu angkat tangan.

Yang terjadi, mata Iran tidak berkedip sedikit pun, dan mulutnya terus mengeluarkan pernyataan tak akan pernah mundur, dan pasukannya terus membombardir aset AS di kawasan. Rakyatnya, bahkan membuat barikade di situs-situs yang diancam akan dibom oleh Trump.

Akhirnya, Trump-lah yang menaruh senjata duluan. "OK, kita ngobrol, lo maunya apa, gua dengerin."

Nah, kini, Iran dalam posisi memaksakan 10 poin keinginannya. Padahal, awalnya, Trump yang mendesakkan 15 poin proposal, menuntut Iran menerima.

Jadi, saat ini belum tahap gencatan senjata, tapi jeda untuk membicarakan 10 poin dari Iran tersebut. Buat Trump, ini bisa dipakai untuk mengklaim kemenangan. Ia bisa menghentikan perang tanpa menyatakan kekalahan.

Buat Iran, semua sekarang tahu, bahwa dengan keteguhan, kemandirian, kesabaran, perlawanan (resistensi), bahkan negara dengan kekuatan militer ranking 1 sedunia pun bisa dihadapi.

Berikut ini 10 poin tuntutan Iran:

  1. Tidak melakukan agresi
  2. Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
  3. Menerima pengayaan uranium
  4. Mencabut semua sanksi utama
  5. Mencabut semua sanksi sekunder
  6. Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
  7. Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran
  8. Pembayaran kompensasi kepada Iran
  9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut
  10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon yang heroik.

Apakah Trump akan memenuhi 10 poin ini, atau lanjut perang? Belum bisa dipastikan saat ini. Tapi Iran sudah menyatakan, "Tangan kami tetap di pelatuk."

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: