Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Terbang ke China, Pemimpin Oposisi Taiwan Suarakan Rekonsiliasi Taipei-Beijing

Terbang ke China, Pemimpin Oposisi Taiwan Suarakan Rekonsiliasi Taipei-Beijing Kredit Foto: Reuters/Ann Wang
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Oposisi Taiwan, Cheng Li-wun menyerukan rekonsiliasi dengan China. Hal itu disuarakannya dalam kunjungannya menuju makan pendiri dari Partai Kuomintang, Sun Yat-sen di Nanjing.

Cheng menyatakan bahwa kesetaraan, inklusivitas, dan persatuan harus menjadi dasar hubungan lintas dari Selat Taiwan. Ia merupakan nilai utama dari Sun Yat-sen. 

Baca Juga: Trump: Ada Peran China di Balik Gencatan Senjata dari Iran dan Amerika Serikat

“Nilai-nilai inti dari cita-cita bahwa ‘semua di bawah langit adalah sama’ selalu berupa kesetaraan, inklusivitas, dan persatuan,” kata Cheng.

Oleh karenanya, ia mengajak adanya rekonsiliasi dari Taiwan dan China. Ia mengajak kedua pihak untuk bekerja sama demi menciptakan stabilitas dan kemakmuran kawasan dari Asia Pasifik.

“Kita harus bekerja sama untuk mempromosikan rekonsiliasi dan persatuan di Selat Taiwan dan menciptakan kemakmuran dan perdamaian regional,” kata Cheng.

Cheng juga mengakui kemajuan pesat yang dicapai dalam beberapa dekat terakhir oleh China. Namun, Taiwan menurutnya juga tidak kalah karena telah berkembang menjadi masyarakat demokratis, sembari menyinggung masa “white terror” selama era darurat militer sebelum 1987.

"Kita juga telah melihat dan menyaksikan kemajuan dan pembangunan yang melampaui harapan dan imajinasi semua orang,” kata Cheng.

Cheng menegaskan bahwa meskipun ia mendukung penguatan pertahanan, dialog tetap diperlukan untuk mencegah konflik. Namun, dengan posisi kedua pihak yang masih jauh berbeda, upaya rekonsiliasi lintas selat diperkirakan akan menghadapi tantangan besar ke depan.

Kunjungan Cheng menjadi sorotan dari Pemerintah Partai Democratic Progressive Party (DPP) Taiwan.  Juru Bicara Democratic Progressive Party, Wu Cheng menegaskan bahwa perdamaian harus didukung oleh kekuatan pertahanan, bukan hanya dialog.

“Perdamaian tidak pernah datang dari kemurahan hati para diktator; perdamaian harus dijaga oleh kekuatan sendiri milik Taiwan,” katanya.

Sementara Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming-yen menyebut adanya penggunaan pendekatan dari "carrot and stick” oleh China. Beijing menurutnya menggabungkan tekanan militer dengan upaya persuasi politik untuk menciptakan tekanan psikologis di Taiwan.

“China menggunakan intimidasi dan pelecehan militer untuk menciptakan suasana meningkatnya bahaya militer dan ketidakstabilan di Selat Taiwan,” katanya.

Baca Juga: Australia Kritik Retorika Trump ke Iran: Tidak Pantas Diucapkan Presiden Amerika Serikat

“Ini dimaksudkan untuk membuat masyarakat dan publik Taiwan merasakan tekanan psikologis dan kecemasan akan kemungkinan konflik,” tambah Tsai.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar