Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hati-Hati! Ini Ciri Investor Saham yang Terjebak FOMO

Hati-Hati! Ini Ciri Investor Saham yang Terjebak FOMO Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

FOMO (Fear of Missing Out) dalam investasi saham merupakan kondisi psikologis ketika investor merasa takut ketinggalan peluang keuntungan.

Hal ini biasanya terjadi saat melihat saham tertentu mengalami lonjakan tajam, sehingga muncul dorongan untuk segera membeli agar tidak tertinggal.

Dorongan emosional tersebut sering kali membuat investor terburu-buru dalam mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang, sehingga berisiko merugikan.

Ciri-Ciri Investor yang Terjebak FOMO

1. Membeli Saham Karena Ikut-Ikutan

Investor membeli saham hanya karena melihat orang lain atau tren di media sosial yang menyebetukan suatu saham sedang naik, tanpa memahami fundamental perusahaan.

2. Tidak Melakukan Analisis

Biasanya investor yang terjebak FOMO, tidak melakukan riset atau anilisis mendalam saat melakukan pembelian saham terkait, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga jangka pendek.

3. Panik Saat Harga Turun

Investor mudah panik ketika harga saham turun, lalu buru-buru menjual sahamnya, meski sebenarnya perusahaan masih memiliki prospek jangka panjang.

Dampak FOMO terhadap Portofolio

FOMO dapat berdampak negatif terhadap portofolio karena keputusan yang diambil lebih banyak dipengaruhi emosi. Akibatnya, investor sering membeli saham di harga tinggi dan menjual di harga rendah. Hal ini membuat portofolio tidak stabil, nilai investasi berkurang, dan tujuan jangka panjang sulit tercapai.

Cara Menghindari FOMO Saat Investasi 

1. Buat Rencana Investasi

Untuk menghindari FOMO, investor sebaiknya menetapkan tujuan, strategi, dan batas risiko sejak awal. Rencana yang jelas membantu investor tetap disiplin dan tidak mudah terpengaruh tren sesaat.

2. Gunakan Analisis Fundamental dan Teknikal

Lakukan riset mendalam sebelum membeli saham. Analisis fundamental memastikan perusahaan memiliki kinerja sehat, sementara analisis teknikal membantu menentukan waktu yang tepat untuk masuk atau keluar dari pasar.

3. Kendalikan Emosi dan Ekspektasi

Baca Juga: IHSG Anjlok? Ini Tips Investasi Saham Biar Tetap Aman

Baca Juga: Apa Itu Saham Gorengan? Waspada Cuan Cepat Tapi Berisiko

Investor perlu menyadari bahwa pasar saham selalu bergerak naik turun, sehingga keputusan investasi tidak boleh didasarkan pada aspek emosional, seperti rasa takut ketinggalan atau panik. 

Dengan mengelola ekspektasi keuntungan secara realistis dan menjaga ketenangan, investor dapat tetap fokus pada strategi jangka panjang tanpa terjebak tren sesaat.

Mindset Investor Jangka Panjang yang Sehat

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Tag Terkait: