Ultimatum Baru Amerika Serikat ke Iran: Damai atau Dihancurkan
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Amerika Serikat menyebut bahwa pihaknya masih menahan diri dengan hanya melakukan blokade laut terhadap Iran. Hal ini menyusul perang kedua negara yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth memperingatkan bahwa pihaknya siap melancarkan serangan terhadap fasilitas vital negara tersebut jika diperintahkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca Juga: Trump Siap Hadiri Langsung Negosiasi Amerika Serikat-Iran di Islamabad
"Kami sedang mempersenjatai kembali dengan kekuatan lebih besar dari sebelumnya, dan intelijen yang lebih baik. Kami telah mengunci target pada infrastruktur penting penggunaan ganda, pembangkit listrik yang tersisa,dan industri energi dari Iran. Kami lebih memilih untuk tidak melakukannya," kata Hegseth.
Hegseth juga menegaskan bahwa negara tersebut harus mengambil keputusan yang tepat menjelang kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa opsi militer tetap terbuka.
"Iran perlu memilih dengan bijak," ujarnya.
Sebelumnya, Amerika Serikat kembali buka suara terkait dengan kelanjutan negosiasinya dengan Iran. Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang akan segera tercapai. Iran menurutnya telah menyetujui hampir seluruh poin dalam perundingan yang sedang berlangsung.
"Jika kesepakatan ditandatangani, saya mungkin akan datang ke Islamabad. Mereka menginginkan saya," kata Trump.
Trump juga menyebut dirinya dapat memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Gencatan senjata itu diketahui akan berakhir pekan depan. Namun, ia mengisyaratkan bahwa langkah tersebut mungkin tidak diperlukan jika kesepakatan tercapai tepat waktu.
Ia menyampaikan nada optimistis terhadap proses negosiasi yang tengah berjalan. Trump mengklaim bahwa negara terkait telah menyetujui untuk menyerahkan uranium yang diperkaya di Teheran.
Negosiasi pertama sebelumnya gagal menyusul ketegangan soal nuklir dalam negosiasi dari Iran dan Amerika Serikat di Pakistan. Menurut Washington, Teheran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.
Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump: Paus Leo Harus Paham, Iran Tak Boleh Punya Nuklir
Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement